Sederhanakan Ucapan, Perbanyak Amal

Everywhere...Around The World!

Untaian Mutiara

“Rasulullah saw. bersabda, ‘Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Nabi saw. bersabda: Setan itu akan mengikat tengkuk salah seorang engkau yang tengah tidur dengan tiga ikatan sehingga engkau tidur semalaman. Apabila seorang di antara engkau bangun seraya menyebut nama Allah, maka lepaslah ikatan pertama. Lalu apabila ia berwudu, maka lepaslah ikatan kedua. Dan apabila diteruskan dengan salat, maka lepaslah ikatan ketiga, sehingga ia akan bersemangat dan berhati jernih. Kalau tidak, maka hatinya akan kusut dan malas ( HR Muslim)

Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah bersabda: Ada empat sifat yang bila dimiliki maka pemiliknya adalah munafik murni. Dan barang siapa yang memiliki salah satu di antara empat tersebut, itu berarti ia telah menyimpan satu tabiat munafik sampai ia tinggalkan. Apabila berbicara ia berbohong, apabila bersepakat ia berkhianat, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila bertikai ia berbuat curang (HR Muslim)

Cinta ibarat pohon yang tumbuh di hati, tonggaknya adalah menghinakan diri di hadapan yang dicintai, batangnya adalah ma’rifah kepadaNya sedangkan dahannya adalah rasa takut, daunnya adalah rasa malu, buahnya adalah taat, air yang menyuburkannya adalah dzikir kepadaNya, maka tatkala cinta kehilangan salah satu di antara hal-hal tersebut, hilanglah sifat kesempurnaannya. (Ibnul Qayyim al Jauziyyah)




Perlukah Wanita Bekerja?

Apakah yang sebenarnya melandasi tindakan para ibu untuk bekerja di luar rumah? Motif-motif apa saja yang mendasari kebutuhan mereka untuk bekerja, hingga mereka mau menghadapi berbagai resiko atau konsekuensi yang mungkin dihadapi? Berikut ini adalah beberapa alasannya:

Kebutuhan finansial
Seringkali kebutuhan rumah tangga yang begitu besar dan mendesak membuat suami dan istri harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat sang istri tidak punya pilihan lain kecuali ikut mencari pekerjaan di luar rumah.

Kebutuhan sosial-relasional
Ada pula ibu-ibu yang tetap memilih untuk bekerja karena mempunyai kebutuhan sosial-relasional yang tinggi dan ternyata tempat kerja mereka sangat mencukupi kebutuhan tersebut. Dalam diri mereka tersimpan suatu kebutuhan akan penerimaan sosial dan adanya identitas sosial yang diperoleh melalui komunitas kerja. Bergaul dengan rekan-rekan di kantor adalah hal yang lebih menyenangkan dari pada hanya tinggal di rumah. Faktor psikologis dan keadaan internal dalam keluarga juga mempengaruhi seseorang untuk tetap mempertahankan pekerjaannya.

Kebutuhan aktualisasi diri
Setiap manusia pasti mempunyai kebutuhan akan aktualisasi diri dan menemukan makna hidupnya melalui aktivitas yang dijalaninya. Bekerja adalah salah satu sarana yang dapat digunakan oleh manusia dalam menemukan makna hidupnya. Dengan berkarya, mengekspresikan diri, mengembangkan diri dan orang lain, membagikan ilmu dan pengalaman, menemukan sesuatu, menghasilkan sesuatu, serta mendapatkan penghargaan atau prestasi adalah bagian dari proses pencapaian kepuasan diri. Kebutuhan akan aktualisasi diri melalui karir merupakan salah satu pilihan yang banyak diambil oleh para wanita jaman sekarang, terutama dengan makin terbukanya kesempatan untuk meraih jenjang karir yang lebih tinggi. Bagi wanita yang sejak sebelum menikah memang sudah bekerja karena dilandasi oleh kebutuhan aktualisasi diri yang tinggi, maka ia akan cenderung kembali bekerja setelah menikah dan mempunyai anak. Mereka merasa bekerja adalah hal yang sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri, membangun kebanggaan diri, dan juga mendapatkan kemandirian secara finansial.

Sebuah studi tentang kepuasan hidup wanita bekerja menunjukkan bahwa wanita yang bekerja memiliki tingkat kepuasan hidup sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja, meskipun ada beberapa faktor lain yang ikut menentukan. Selain itu, hasil penelitian yang dimuat dalam Journal of Marriage and the Family tentang ukuran kebahagiaan hidup wanita yang sudah menikah, ditinjau dari tiga kategori (wanita bekerja, wanita pernah bekerja, dan wanita yang belum pernah bekerja), menunjukkan bahwa bagi para istri dan ibu bekerja, kebahagiaan perkawinan adalah tetap menjadi hal yang utama dibandingkan dengan kepuasan kerja.

Sikap suami juga merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan dual-career marriage. Suami yang merasa terancam, tersaingi, dan cemburu dengan status “bekerja” istrinya, umumnya tidak mampu bersikap toleran terhadap keberadaan istri yang bekerja. Ada pula suami yang tidak menganggap pekerjaan istri menjadi suatu masalah, selama istrinya tetap dapat memenuhi dan melayani kebutuhan si suami. Namun, ada pula suami yang justru mendukung karir istrinya dan ikut bekerja sama dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Dalam kondisi yang terakhir ini, pada umumnya sang istri akan lebih dapat merasakan kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup, keluarga, maupun karirnya. Perkawinan dual-career dikatakan berhasil jika antara pihak suami dan istri saling memperlakukan pasangannya sebagai partner yang setara.

Sumber : Journal of Marriage and the Family




Bagaimana Agar Mulut Tetap Segar?

Salah satu gangguan pada mulut adalah penyakit gusi. Penyakit gusi itu sendiri merupakan penyakit yang tersembunyi dan bisa berbahaya. Namun, ada beberapa obat alami yang dapat dicoba untuk mengatasinya.

Nafas bau
Nafas yang bau atau dikenal sebagai halitosis, merupakan akibat yang ditimbulkan atau menyertai adanya gangguan pada gusi. Cairan pencuci mulut diketahui dapat membuat nafas menjadi segar kembali. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa larutan garam yang hangat mampu menetralkan keasaman pada mulut dan juga dapat membunuh bakteri dalam mulut. Campurkan satu sendok garam ke dalam segelas kecil air hangat dan gunakan campuran tersebut untuk berkumur-kumur sebanyak tiga kali sehari.

Sariawan
Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya luka kecil yang menyakitkan ini. Salah satunya adalah tidak berfungsinya sistem imun dalam tubuh, stres, atau karena nutrisi yang tidak cukup. Apa pun penyebabnya, sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dicoba untuk mempercepat kesembuhan akibat sariawan. Untuk sariawan yang sering kambuh, sebaiknya konsumsi pasta gigi tanpa kandungan sodium lauryl sulfate, yaitu kandungan deterjen pada pasta gigi yang dapat membuat kering membran mukosa dalam mulut sehingga menyebabkan sariawan semakin bertambah sakit.

Bibir melepuh
Lepuhan pada bibir dapat disebabkan oleh virus herpes simplex yang umumnya akan muncul jika sistem kekebalan tubuh melemah. Kondisi itu dapat diatasi dengan menggunakan salep atau krim yang mengandung lemon balm dan mengoleskannya secara tipis di bibir sebanyak empat kali sehari.




Mungkinkah Bisa Hamil Tanpa Sperma?

Bisakah seorang wanita hamil tanpa sperma pria? Tim peneliti dari Monash University, Australia, belakangan ini menemukan cara terbaru untuk membuahi sel telur dengan menggunakan bahan genetik dari sel apapun di dalam tubuh dan tidak menggunakan sperma. Diduga teknik itu sangat bermanfaat bagi pasangan tak subur yang sangat mendambakan hadirnya anak di tengah-tengah mereka. Para peneliti tersebut berhasil membuahi sel telur pada tikus dengan menggunakan sel-sel tubuh lainnya atau dikenal sebagai sel-sel somatik.

Dalam penelitian ini, para peneliti meniru proses yang terjadi pada pembuahan normal dimana dua set kromosom X dalam satu sel telur wanita dipisahkan dan salah satunya kemudian ”dikeluarkan”, sedangkan satu set sisanya akan membentuk kombinasi dengan satu set kromosom dari sel sperma pria. Namun, para peneliti belum bisa memastikan apakah embrio-embrio tersebut dapat hidup dalam waktu yang cukup lama. Hal itu baru bisa diketahui setelah embrio dipindahkan ke dalam rahim calon ibu untuk perkembangan selanjutnya.

Peran penelitian ini diduga cukup besar ke depannya, khususnya untuk meringankan masalah kaum pria yang tidak mampu mempunyai anak karena tidak cukup memiliki sel sperma atau sel-sel benih yang berpotensi menjadi sel sperma.

Sebenarnya teknik ini jauh lebih baik dibandingkan teknik kloning dan secara etis lebih bisa diterima karena kromosom-kromosomnya diperoleh dari dua orang. Selain itu, keinginan setiap orang untuk memiliki anak memang tidak dapat dipungkiri. Namun, para orang tua juga sebaiknya memikirkan kepentingan si calon anak nantinya. Jika cara yang ditempuh ternyata berisiko terhadap perkembangan si calon anak, sebaiknya cara tersebut dihindari.




Ibu Bekerja Lebih Sehat Daripada Ibu Rumah Tangga

Wanita yang bekerja sekaligus berperan sebagai istri dan juga ibu rumah tangga ternyata dapat membantu kondisi wanita tersebut tetap dalam keadaan yang sehat. Berdasarkan hasil studi analisa, diketahui bahwa ibu rumah tangga biasa dan wanita yang belum mempunyai anak ternyata memiliki tingkat kesehatan yang lebih rendah dan cenderung mudah mengalami obesitas dibandingkan kelompok wanita yang mempunyai berbagai peran, baik dalam pekerjaan maupun rumah tangganya.

Wanita yang memiliki berbagai peran dalam jangka waktu cukup lama diketahui cenderung memiliki tingkat kesehatan yang baik di usia 54 tahun. Dapat juga dikatakan bahwa seorang wanita cenderung lebih sehat akibat kombinasi pekerjaan maupun kehidupan rumah tangganya.

Dalam sebuah studi yang pernah dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health, didapatkan laporan kesehatan dari sekitar 2.000 wanita dengan usia 26 sampai 54 tahun dan juga indeks massa tubuhnya sebagai metode untuk mengukur obesitas. Ditambahkan pula informasi tentang status pernikahan, pekerjaan, dan apakah mereka mempunyai anak atau tidak. Para peneliti menyimpulkan bahwa wanita yang berperan sebagai ibu rumah tangga dalam hidupnya memiliki tingkat kesehatan yang lebih rendah, kemudian diikuti dengan kelompok single mothers dan juga wanita tanpa anak.

Ibu rumah tangga diketahui cenderung lebih mudah mengalami kenaikan berat badan dan kecepatan obesitas yang paling tinggi (yaitu 38%), sedangkan wanita yang bekerja sekaligus berperan sebagai istri maupun ibu rumah tangga ternyata memiliki tingkat obesitas yang paling rendah.

Para peneliti juga menyatakan bahwa wanita yang berperan sebagai pekerja, sekaligus sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, umumnya memiliki kesehatan yang lebih baik. Namun, hal tersebut tidak terlalu jelas apakah mereka bekerja dan mempunyai anak karena kondisi mereka yang sehat atau apakah mereka sehat karena mereka bekerja dan juga memiliki anak. Jadi, penelitian ini memerlukan studi lebih lanjut dan mungkin memiliki potensi kesehatan bagi hubungan sosial seorang wanita untuk jangka panjang.

Sumber : Journal of Epidemiology and Community Health




Kartu-kartu AS Negosiasi

Negosiasi, kini menjadi sebuah keahlian atau kompetensi kunci dalam berbisnis. Perusahaan-perusahaan secara agresif memburu executive yang jago negosiasi dan rela untuk mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengasah karyawan yang ada untuk jadi negosiator ulung. Alasannya sederhana namun ‘dalam’, karena dalam setiap interaksi dan transaksi, khususnya dalam situasi bisnis, semua pihak ingin mendapatkan tawaran yang terbaik.

Sesungguhnya negosiasi ada di setiap situasi, tidak hanya dalam bisnis. Dari mulai negosiasi batas kelautan antar negara, perdagangan senjata, evakuasi korban merapi, jual-beli produk dan jasa, negosiasi antara suami dengan isteri, bahkan orang tua dengan anak remajanya. Kerap kita dihadapkan pada situasi negosiasi dengan pihak yang sama sekali asing, namun tidak jarang juga kita berhadapan dengan pihak yang sudah akrab, seperti teman atau mitra bisnis. Dengan siapa pun kita berhadapan dalam proses negosiasi, ketegangan pasti terasa. Meskipun kata-kata “win-win situation” senantiasa didengung-dengungkan, namun tetap saja, posisi kedua belah pihak negosiator adalah berseberangan.

Orang yang terbiasa bernegosiasi, umumnya punya kesadaran akan ‘gaya’ negosiasi mereka, kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki dalam negosiasi. Mengasah ketrampilan negosiasi akan menimbulkan kesadaran akan ‘kartu-kartu’ apa yang Anda punya dan kapan waktu yang tepat untuk ‘memainkannya’, serta tentu saja, menambah kepercayaan diri untuk memenangkan negosiasi, bahkan sebelum negosiasi dilakukan.

Beberapa faktor yang perlu dikenali oleh para profesional sebelum terjun ke arena negosiasi adalah;

Seberapa “well informed”-kah anda?
Informasi mengenai kebutuhan lawan, waktu pengadaan, urgensi kebutuhan serta kompetisi yang ada, perlu lengkap dan luar kepala. Tentunya ini sudah termasuk pengetahuan ‘produk’, baik produk kita sendiri, maupun produk pihak lain, beserta peta kompetisinya. Informasi ini bahkan terkadang mencakup informasi detil yang tidak ada batasnya, sampai ke kehidupan pribadi ataupun borok lawan sekali pun. Bagi negosiator, informasi adalah amunisi. Semakin ”well informed” seorang negosiator, semakin banyak amunisinya.

Berapa kartu yang anda bawa?
Negosiasi ibarat bermain kartu . Bila anda hanya berniat maju-mundur di harga saja, maka anda seolah berperang dengan satu senjata. Seorang negosiator unggul punya banyak aspek yang bisa dinegosiasikan. Sebenarnya permainan aspek-aspek inilah yang pada akhirnya bisa membuat setiap pihak merasakan situasi “win-win”. Misalnya, Anda tahu bahwa pelanggan butuh produk anda segera, dan ia tidak bisa mendapatkannya dari tempat lain; ini adalah kesempatan Anda untuk mendapatkan harga bagus. Pelanggan toh ‘menang’ juga karena mendapatkan produknya tepat waktu.

Jadilah Sutradara
Seringkali karena ketegangan dan keinginan untuk menggolkan negosiasi, kita lupa bahwa suasana berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Tanggung jawab menciptakan suasana adalah ada di tangan orang yang menyadari dan ingin menguasai situasi. Oleh karenanya, jadilah sutradara. Dengan kontrol yang baik terhadap situasi , kita bisa membuat lawan bermain di arena kita. Dengan terjadinya negosiasi di arena yang kita kuasai, kita dapat mengatur irama sambil membaca situasi lebih baik.

Personal tetapi “Don’t take it personally”
Orang sering mengatakan bahwa dalam bernego, kemampuan berhitunglah yang menunjang kesuksesan kita. Hal ini sangat saya setujui. Kita perlu tahu berapa untung atau berapa rugi kita saat pilihan dijatuhkan. Namun demikian, hanya dengan pendekatan personal-lah kita bisa masuk dan meraba informasi yang lebih dalam tentang pihak lawan, dengan pendekatan personal jugalah kita dapat mematahkan lawan. Senyum, misalnya, adalah senjata klasik paling jitu untuk membawa pesan “saya menyukai anda”, yang pastinya lebih bermanfaat daripada pesan misalnya “saya paling tahu”, atau “saya tahu semua tentang anda”. Sebaliknya , agar kita tidak jatuh di arena lawan, perlu juga kita berlatih untuk memasang “poker face”, dimana dibalik senyum kita, lawan tidak bisa membaca sinyal. Dalam negosiasi, kita perlu sekali menyadari bahwa ini hanyalah suatu proses di mana kita hanya menjadi “duta” instansi. Kata-kata atau kalimat penekanan dari pihak lawan hendaknya dihadapi dengan sikap “cool”dan cermat, dan tidak membuat kita marah atau tersinggung.

(Ditayangkan di KOMPAS, 3 Juni 2006)
by: Eileen Rachman & Yuliana Saputra
Monday, June 12, 2006




Mission Not Impossible: Introver Jago Networking

“Saya introvert. Saya tidak tahu harus berkata apa, bila menghadapi klien”

Alasan ini berulang kali keluar dari mulut beberapa orang profesional yang merasa lelah karena diuber-uber target untuk melakukan networking. Di masa sekarang, di mana membangun hubungan dengan pihak internal maupun eksternal perusahaan menjadi syarat kesuksesan pekerjaan dan kesuksesan organisasi, networking tidak lagi menjadi sesuatu yang ketrampilan yang ‘nice to have’ (bagus untuk dimiliki) tapi menjadi sesuatu yang ‘necessary to have’ (harus dimiliki). Suka tidak suka, networking adalah key performance indicator-nya para executive.

Banyak orang menganggap bahwa networking adalah dominasi orang dengan tipe kepribadian ekstrover. Ekstrover adalah mereka yang mendapatkan gairah hidup dari interaksi dengan banyak orang disekitarnya. Karakteristik ekstrover adalah luwes dalam bergaul, senang berada ditengah pesta dan bertemu dengan orang-orang baru, yang berpotensi untuk mendukung keberhasilan pekerjaannya. Networking tampaknya sudah menjadi hal yang alami bagi mereka.

Bagaimana dengan si Introver? Orang dengan tipe introver mendapatkan energi dari dalam dirinya sendiri. Mereka tidak suka dengan pesta atau pertemuan sosial yang mengharuskannya bertemu dan berbicara dengan banyak orang. Bila pun menghadiri suatu pertemuan, ia berinteraksi dengan beberapa orang-orang saja, juga lebih banyak mengambil peran sebagai pendengar. Bagi mereka yang tidak terlalu menikmati pertemuan dengan banyak orang, membangun jejaring memang membutuhkan waktu dan usaha. Pertanyaannya kemudian, apakah karakteristik seorang introver menyebabkan mereka kurang berhasil mengembangkan networking dibandingkan mereka yang ekstrover? Jawabannya: belum tentu!

Kenyataannya adalah networking tidak selalu mudah, bahkan untuk ekstrover sekali pun. Pada dasarnya networking merupakan usaha untuk mengembangkan hubungan dengan orang-orang yang ada disekitar, bisa berupa interaksi dengan orang lain ataupun pertukaran informasi. Setiap orang perlu mengembangkan ’gaya’ atau pendekatan networking yang khas dan manjur bagi diri mereka masing-masing, disesuaikan dengan karakteristik kepribadiannya. Bagi si introver, menjadi pendengar yang baik dan menunjukkan kesediaan untuk membantu orang lain, bisa jadi merupakan modal utama baginya. Membangun kepercayaan diri untuk melakukan networking dapat dilakukan dengan mendefinisikan ulang esensi dari networking, yaitu tidak hanya sekedar ’gaul’ saja atau ’luwes’ saja, tapi membangun kepercayaan dan hubungan yang bermakna dan mendukung kesuksesan pekerjaannya.

Beberapa langkah agar introver dapat mengembangkan ’gaya’ dan pendekatan khas untuk menjadi jago networking adalah:

Eksplorasi Kelebihan, Temukan Keunggulan
Gali kelebihan yang dapat digunakan untuk mengembangkan hubungan dengan orang lain. Beberapa di antaranya yang khas bagi introver adalah senang mendengarkan orang lain, bisa mengingat hal kecil, senang membantu, tidak sungkan memberikan pujian.

Miliki Alternatif yang sesuai Gaya dan Kelebihan Anda
Beberapa kegiatan ini dapat dilakukan, misalnya:
- Perkuat hubungan non-tatap muka, misalnya dengan mengirim e-mail /sms berisi cerita, anekdot, atau humor, untuk menyegarkan hubungan.
- Memanfaatkan kegiatan seminar atau training daripada pergi ke pesta.
- Kirimkan kartu ucapan selamat, sebagai tindak lanjut dari informasi yang dimiliki atas diri target networking.

Tetapkan Target Spesifik dan Realistik
Tujuannya adalah agar Anda dapat mengukur dan mengevaluasi progress dari usaha Anda mengasah ketrampilan networking dan secara bertahap dapat meningkatkan target networking Anda. Tentukan, misalnya
- Berapa jumlah kontak atau ”say hello” dalam waktu seminggu.
- Berapa kali melakukan kegiatan bersama dengan klien atau rekan kerja sebulan sekali, bisa berupa makan siang, olah raga, atau belanja bareng.
- Berapa orang yang akan Anda dekati dalam suatu ajang networking.

Miliki Skenario
Tak jarang orang tipe introver merasa tidak nyaman bila harus menelpon seseorang yang belum dikenalnya. Adanya panduan dan skenario akan membantu untuk mengembangkan pembicaraan.

Pertolongan : komoditi seorang networker
Sepanjang kita menyadari bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan akan referensi, kita masih bisa melakukan networking. Banyak sekali orang tidak kenal restoran yang paling asik. Banyak sekali orang merasa beruntung bila diperkenalkan pada rekanan bisnis baru. Nomor nomor telpon penting sering tidak dipunyai orang lain. Semua itu bisa kita jadikan materi ”sharing” yang menarik sekaligus menguntungkan semua pihak. Dengan membiasakan hal ini hubungan tolong menolong terjadi secara wajar dan otomatis.

Membangun jejaring merupakan salah satu alat untuk membangun hubungan yang berjangka panjang. Siapapun dapat melakukannya, dan banyak alternatif untuk mewujudkannya, sesuai dengan karakteristik pribadi masing-masing. Jika Anda berperan sebagai manager, kiat ini dapat pula Anda gunakan untuk melatih dan memberi dukungan pada anak buah Anda yang introver, sehingga dapat membantunya memanfaatkan hubungan baik tersebut untuk keberhasilan dalam pekerjaannya.

(Ditayangkan di KOMPAS, 10 Juni 2006)
by: Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh
Monday, June 12, 2006




Hikmah Pagi

Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam perkara:

(1) Apabila engkau menjumpainya engkau berikan salam kepadanya
(2) Apabila ia mengundangmu engkau memperkenankan undangannya
(3) Apabila ia meminta nasehat, engkau menasehatinya
(4) Apabila ia bersin dan memuji Allah, hendaklah engkau mentasymitkannya (berdoa untuknya)
(5) Apabila ia sakit hendaklah engkau menjenguknya
(6) Apabila ia mati hendaklah engkau antarkan jenazahnya

(HR.Muslim dan Tirmizi)




“Being Recognized” : Tidak Cukup Hanya Kerja Baik

Tidak sedikit saya bertemu karyawan yang curhat mengatakan bahwa tidak ada bedanya jadi pekerja ‘biasa-biasa’ saja dengan pekerja yang banting tulang dan ‘luar biasa’.
“Tetap saja saya harus melalui jalur standar. Menunggu kenaikan pangkat dan gaji masal. Lama kelamaan saya berkesimpulan, orang yang menonjol atau tidak, tidak terlihat di perusahaan”

Barangkali ini seperti cerita klise. Anda sudah melakukan outstanding job, namun tetap tidak ada yang peduli? Jangankan mendapat reward, justru orang lain yang dipromosikan. Jengkel tentu saja. Mau protes? Nanti dulu. Coba pikir lagi, kapan anda pernah berupaya secara khusus agar atasan melirik prestasi Anda? Sudahkah anda ‘menjual’ diri agar orang tahu kemampuan anda? Jangan-jangan selama ini anda hanya duduk manis di balik meja, merespon semua instruksi, bekerja cepat, atau menyelesaikan setiap masalah dan keluhan. Anda tidak pernah tahu kapan orang-orang menyadari kesuksesan anda selama ini.

Sadari beberapa poin krusial ini, jika Anda benar-benar ingin ‘dilirik’ dan diakui keberadaan dan kontribusinya dalam organisasi.

1. Ingat: Kerja Keras itu “Biasa “
Sudah sewajarnya seorang profesional yang bekerja di sebuah organisasi bekerja keras. Rekan-rekan sejawat Anda juga dituntut untuk menampilkan semangat yang sama. Jangan pernah bandingkan diri kita dengan orang yang tidak bekerja keras. Masalahnya sekarang adalah selain bekerja keras, kita perlu dikenal dan telihat “kinclong”. Ketidaksadaran individu untuk menjual hasil karyanya inilah yang sering membuatnya tenggelam. Kerap kita mendengar ungkapan “Saya hanya seorang administrator”. Apakah seorang administrator tidak bisa menonjol dan meraih puncak karir dalam organisasi?

2. Ciptakan Nilai Tambah
Keahlian tidak bersifat instan dan tidak terikat gelar pendidikan. Keahlian justru dimatangkan oleh pengalaman di lapangan, dari proyek yang ditangani, dari persoalan yang muncul, atau dari kesalahan yang dibuat. Anda perlu mem-’bungkus’-nya agar keahlian ini bisa mengendap, muncul, dan membawa perubahan dan gaya dalam pemecahan masalah khas Anda. Prinsipnya, jangan hanya bisa mengerjakan sesuatu, tetapi jadilah ahli solusi yang memiliki gaya khas! Hanya dengan nilai tambah yang signifikan, profesionalitas anda menjadi “luar biasa”.

3. Bersahabat dengan Ide dan Rangkul Peluang
Seringkali saya sedih bila individu melihat sukses dikaitkan dengan jenis pekerjaannya. Seolah ada pekerjaan kelas satu dan kelas kambing. Suami saya yang hafal sejarah luar kepala, mendapatkan pelajaran dari seorang guru yang selalu melakukan “roleplay” dengan penggaris, kursi dan alat bantu sederhana lain yang ada di dalam kelas untuk mengajarkan sejarah. Bukankah ini suatu cara kreatif? Tidak selamanya ide kreatif harus datang dari eksekutif top atau bagian kreatif perusahaan. Ide sekecil apapun, bila digarap sungguh-sungguh bisa merubah sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi perusahaan.

Apapun peran yang Anda emban di organisasi, ingatlah untuk selalu mencari peluang yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain. Anda bekerja di bagian back office? Ciptakan alur kerja yang lebih efisien untuk kemudahan kerja unit anda, dan hitung dampaknya terhadap cost. Cari sebanyak mungkin kesempatan, dan lakukan eksekusi secara cermat. Cari dukungan dari orang-orang yang mau mendengarkan dan membantu menjual ide anda. Sekali Anda berpikir tentang ide, Anda akan terus kritis mencari celah untuk kemajuan kerja dalam skala yang lebih luas, bahkan hingga ke tahap organisasi.

4. Sekali Luar Biasa Tidak Selamanya Luar Biasa
Seorang manajer pemasaran yang berhasil meluncurkan produk dan bahkan mendongkrak angka penjualan produknya dengan 100% tidak bisa berada di dalam “comfort zone”. Ia tidak bisa mengklaim sejarah kesuksesannya untuk waktu yang lama. Bila ia tidak menciptakan kesuksesannya kembali, apakah melalui kegiatan yang sama dengan target lebih atau kegiatan lain dengan hasil yang lagi lagi menonjol, maka ke “terlihatan” nya pun akan berangsur pudar.

5. Jual dan Tonjolkan Keberhasilan
Saat Anda dan tim mencapai kesuksesan dalam proyek atau menemukan solusi yang hasilnya luar biasa, jangan lalu berhenti. Bagilah pengalaman Anda kepada orang lain. Manfaatkan media komunikasi di perusahaan, apakah bulletin, intranet atau website yang paling mungkin dibaca oleh orang-orang penting di perusahaan anda. Gali masukan dan diskusikan lebih lanjut dengan orang-orang yang berkepentingan. Cari orang-orang yang bisa membantu Anda menuangkan kisah sukses anda secara cerdas.

Sukses anda, sekecil apapun, bila dikemas dengan cantik, bisa memberi inspirasi kepada orang banyak. Hal yang lebih penting lagi, “sense of success” akan berdampak luar biasa bagi kemajuan anda pribadi. Jangan pernah takut untuk menampilkan keberhasilan anda kepada orang lain. Katakan “Saya berupaya keras dan telah berhasil” dengan penuh percaya diri, dan suarakan secara positif dan tepat.

(ditayangkan di Kompas, 24 Juni 2006)




Perlu Profesional untuk Berada di Dua Kuadran

“Pertamanya harus fokus dulu. Kalau sudah fokus, maka Anda akan menjadi profesional. Dan jangan lupa untuk do the best.”

Akhir tahun lalu, Robert T Kiyosaki, penulis kondang buku-buku “provokatif”, yang membolak-balik pikiran pembacanya dengan teori cashflow quadrant mampir ke Indonesia. Selama beberapa hari, ia menjadi pembicara di seminar yang dihadiri para “penggemar”nya yang selama ini hanya bersentuhan dengannya lewat buku. Pada saat itu, ada satu orang yang tampak sangat sibuk mempersiapkan kedatangan Robert Kiyosaki, dialah Tung Desem Waringin, ia orang kepercayaan Kiyosaki di Indonesia. Kepada EI, Tung – begitu ia sering disapa, berbicara banyak soal kecenderungan orang untuk hidup di dua kuadran. Berikut petikannya:

Bagaimana pendapat Bapak mengenai orang-orang yang hidup di dua kuadran?
Menurut saya, itu adalah hak asasi manusia karena sebetulnya tidak ada undang-undang dan aturan apapun yang melarang orang memiliki penghasilan lebih dari satu. Fenomenanya sudah lama sekali. Sementara itu, di dunia karyawan sekarang ini tidak ada pekerjaan yang aman karena semua berpeluang untuk kehilangan pekerjaan. Apakah karena dipecat atau karena pensiun. Dengan kondisi seperti ini, kalau misalnya ada atasan yang melarang karyawannya mempunyai penghasilan di luar pekerjaan, itu dasarnya apa? Kecuali perusahaan memang sangat membutuhkan fokus Anda. Tetapi kalau dilakukan di luar jam kerja dan tidak mengganggu pekerjaan, menurut saya itu tidak apa-apa.

Ada beberapa perusahaan yang menerapkan kebijakan terhadap karyawannya untuk tidak berusaha di tempat lain, bagaimana pendapat Bapak?
Sekarang begini, kalau saya punya frenchise Indomaret atau Alfamart boleh nggak? Tetapi saya tetap menjadi karyawan di tempat atau perusahaan itu. Kecuali memang ada perusahaan yang jelas-jelas tidak membolehkan karyawannya mempunyai usaha atau karyawan tersebut boleh mempunyai usaha lain asal sepengetahuan perusahaan. Karena sesungguhnya, apa yang harus dikhawatirkan? Menurut saya, selama itu tidak mengganggu jam kerja perusahaan, hal tersebut sah-sah saja.

Tingkah laku orang-orang di dua kuadran itu seperti apa?
Ada dua macam. Dalam artian, pertama, ada yang mempunyai usaha yang dilarang perusahaan atau tidak disukai karena mereka menggunakan fasilitas perusahaan dan kenalan perusahaan untuk keperluan bisnisnya. Kondisi inilah yang tidak diharapkan oleh perusahaan. Kedua adalah profesional. Orang-orang ini mampu membedakan mana kepentingan perusahaan tempatnya bekerja dengan kepentingan bisnisnya secara pribadi.

Bagaimana jika menggunakan jaringan kantor?
Ya, kalau sekadar untuk kenalan mungkin masih bisa ditoleransi. Tetapi tetap selama kenalan tersebut masih dalam hal profesional.

Apa kelebihan dan kekurangan hidup di dua kuadaran?
Oh, banyak. Memang, memulai bisnis itu sendiri memang agak repot. Sehingga banyak dari mereka yang tidak fokus. Bayangkan kalau dia tidak mempunyai orang dan sistem yang tepat, kemungkinan bangkrut jauh lebih besar daripada dia mulai sendiri dan fokus. Kelebihannya kalau dia punya sistem dan orang yang tepat bisa jalan dengan dan atau tanpa dia. Dia dapat income yang lebih karena lebih tenang dalam menjalani hidup. Kalau ada apa-apa, misalnya, perusahaanya diambil alih oleh orang asing, itu manajemennya jadi ganti nggak? Bisa jadi manajemen pemilik baru dan pasti akan ada yang tersingkir. Kalau dia punya usaha sendiri dia akan jauh lebih tenang dan aman.

Masalah apa yang sering dihadapi oleh orang-orang yang hidup di dua kuadran?
Kita harus ingat, perusahaan membutuhkan sistem dan orang agar berjalan dengan lancar. Sementara banyak orang yang memiliki usaha sendiri itu tidak memiliki sistem yang baik. Contohnya, dalam rekrutmen karyawan, banyak diantara mereka yang lebih memilih keluarga sendiri untuk menjadi karyawan. Bahkan kadang kala karyawan tersebut tidak tepat sasaran. Ini jelas saja akan menimbulkan masalah bagi perusahaan. Intinya, sistem itu perlu untuk diperhatikan karena yang namanya masalah akan tetap ada, tetapi kalau perusahaan mempunyai sistem yang baik setidaknya masalah bisa diminalisir. Untuk itu, bangunlah sistem yang kuat baik dari segi marketing, kontrol, dan sistem SDM-nya karena jika sistem yang dipegang perusahaan itu kuat maka negaranya juga kuat. Pilihlah orang-orang yang mempunyai gairah kerja, integritas, bisa dipercaya, dan memiliki skill.

Baik mana hidup di satu kuadran atau dua kuadran?
Yang paling enak punya frenchise. Kita bisa jual ke orang lain, setelah frenchise-nya besar dan go public kan lebih enak. Itulah yang paling menyenangkan.

Berarti lebih bertahan di dua kuadran?
Hm, begini, saya mempunyai teman, sebetulnya dia tidak perlu lagi bekerja di perusahaan karena dia sudah kaya tetapi dia masih tetap bekerja. Teman saya yang lain nanya, “Kamu tsudah punya Fuji Film, Indomaret, dll dan hasilnya juga jauh lebih besar dari gaji kamu, mengapa masih mau bekerja di perusahaan orang?” Teman itu sambil tersenyum menjawab, bahwa dia butuh “bersandar” untuk tetap eksis. Sebetulnya menurut saya, kalau sudah besar seperti itu, orang tidak membutuhkan sandaran lagi. Seperti saya, dulu saya bersandar pada Antoni Robins, Robert T Kyosaki sebagai Excekutif Authorized Consultant. Tetapi ketika mulai besar mereka juga membutuhkan saya sebagai patner, bukan karyawan.

Kalau begitu ada hubungan dengan sikap mentalnya?
Ya, mental dia sudah biasa menjadi karyawan jadi dia takut ketika berhadapan dengan dunia yang berbeda.

Apakah orang yang berada di dua kuadran cenderung memiliki sikap mental seperti itu?
Kecenderungan seperti itu ada. Mungkin saja mereka pernah punya pengalaman buruk. Misalnya, perusahaannya pernah diakuisisi sehingga dia berpikir tidak ada pekerjaan yang aman. Tetapi tidak semua orang seperti itu, ada juga yang benar-benar bisa profesional. Contohnya, Pak Teddy Rahmat. Zaman dulu dia sudah punya perusahaan tetapi dia juga bisa bekerja dengan bagus di Astra.

Kiat-kiat agar bisa sukses di dua kuadran?
Pertamanya harus fokus dulu. Kalau sudah fokus, maka Anda akan menjadi profesional. Dan jangan lupa untuk do the best. Saya dulu pernah kerja di satu bank dan berada di dua kuadran. Pada saat jadi profesional, cabang saya one of the best. Semua lancar, hasil auditnya terbaik terus se-Indonesia. Menjadi pertumbuhan kartu ATM dan kartu kredit terbesar di Indonesia. Nah, kalau kita sudah seperti itu, everything is alright. Sistem jalan, semua baik, marketing, auditor, maupun sistem kontrolnya.

Apa inti dari ajaran Cashflow Quadrant yang dikemukakan oleh Robert T Kiyosaki itu?
Cashflow quadrant itu sebenarnya sangat tajam. Jadi tidak heran bukunya Robert T. Kyosaki yang Rich Dad Poor Dad dan Cashflow Quadrant menjelajah dunia karena dia begitu tajamnya. Di bawah orang untuk employee, start untuk employee adalah memperkerjakan diri sendiri professional. Kalau dia pedagang nanti ditinggal nggak bisa tapi kalau ditungguin ada. Bisnis Owner dengan syarat kalau dia meninggalkan bisnisnya akan semakin besar. Toko buku saya ditinggal satu tahun, tapi makin besar karena sudah ada sistem dan orangnya. Kemudian investor yang memutar uang untuk berkembang tanpa harus terlibat. Intinya empat hal itu dan itu sangat tajam sekali.

Apakah teori casflow quadrant ini sudah ada sebelumnya atau memang baru diperkenalkan oleh Robert T Kiyosaki?
Cashflow quadrant yang mencetuskan pertama kali Robert T Kyosaki. Dia menyederhanakan dari teori-teori yang sudah ada. Sebetulnya Rich Dad-nya Robert T Kyosaki itu ada tujuh bukan satu. Tetapi agar mudah disederhanakan seolah belajar dari satu orang. Sebenarnya ilmu tadi sudah ada dan dia menyederhanakan agar dapat membuat orang belajar lebih mudah.

Apa yang menginspirasi Bapak sampai bisa seperti sekarang ini?
Keinginan untuk berarti kepada orang banyak. Manusia itu ada enam kebutuhan. Ada sisi aman, ada yang butuh variasi maka dia suka bertualang, ada yang butuhnya relationship, makanya dia berkeluarga dan ada orang butuh pendidikan, ada orang yang berkeinginan lebih baik, jadi harus ada peningkatan, ada orang yang ingin mempunyai kontribusi. Nah, kalau saya yang ke-enam tadi. Saya ingin hidup berarti untuk orang banyak dengan memberi teladan.

(EI*** http://www.cybermq.com/cybermq/detail_artikel.php?id=280&noid=4)




Ridzki Setelah Nikah

“Ridzki adalah salah satu faktor yang paling banyak menjadi polemik, sebelum maupun setelah pernikahan. Faktor ridzki ini tak henti-hentinya menjadi pokok bahasan dalam, menjelang dan disaat kita mengarungi pernikahan.”

Ridzki adalah salah satu faktor yang paling banyak menjadi polemik, sebelum maupun setelah pernikahan. Faktor ridzki ini tak henti-hentinya menjadi pokok bahasan dalam, menjelang dan disaat kita mengarungi pernikahan. Waktu lamaran atau khitbah misalnya, kerap kali seorang pria ditanyai calon mertua dengan pertanyaan : sudah kerja atau belum ? kerja di mana ?, semata-mata karena kerja ada kaitannya dengan ridzki, dalam pengertian : ridzki material untuk menghidupi keluarga (suami, istri dan anak).

Mengenai jumlah material yang bakal didapat seseorang ketika dia telah menikahpun masih banyak perbedaan pendapat. Ada yang berkata : ridzki material seseorang yang menikah akan berkurang, mengingat jatah dirinya harus dibagi tiga- untuk diri, pasangan dan untuk anak-anaknya. Ada yang berkata : ridzki material seseorang yang menikah akan bertambah, mengingat ridzki dari diri, pasangan dan anak semuanya berkumpul dalam wadah yang bernama keluarga. Pendapat kedua yang lebih optimistik ini berpangkal dari asumsi, masing-masing orang sudah dikaruniai ridzki dari Allah, sehingga ridzki itu berkumpul dalam suatu wadah, yaitu keluarga. Tambah optimis mereka yang memegang prinsip kedua ini, ketika pasangan suami-istri dikaruniai kelahiran seorang anak. Sudah ada ridzki suami, ridzki istri, ditambah lagi ridzkinya seorang anak. “Banyak anak banyak ridzki,” bisa berlaku pula teratas mereka yang percaya dengan prinsip yang disebut ke-2 ini.

Bila diminta memihak, maka penulis tentu akan berpihak pada pendapat ke-2, kendati secara logika pendapat pertama tidak sama sekali salah. Pendapat pertama bisa menjadi suatu kebenaran, dengan syarat : pencari nafkah tidak optimal dalam ikhtiar, sedang penerima nafkah tidak mampu mengalokasikan pendapatan secara hemat dan benar. Atau jangan-jangan, pihak yang bertanggungjawab mencari nafkah belum atau tidak mampu mencari nafkah, bagi pemenuhan kebutuhan dan stabilitas ekonomi keluarganya.

Optimisme yang mengemuka dalam pendapat pertama bisa juga menjadi buyar, ketika optimisme tidak didukung oleh maksimalisasi potensi ikhtiar, serta azas penghematan dalam pengelolaan anggaran keluarga. Pameo “banyak anak banyak ridzki” bisa tidak berlaku lagi, berganti dengan pameo : “banyak anak banyak beban.” Hemat penulis, fenomena inilah yang banyak terjadi di negara ini. Dengan faktor penyebab yang ditengarai : pernikahan dini, entah karena “married by accident” atau dalih ingin lekas menunaikan perintah agama, tanpa mengukur kemampuan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi pasca pernikahan. Itulah sebabnya, untuk mencegah hal tersebut, Ibrahim Amini, seorang cendekiawan Islam meletakkan pekerjaan tetap atau stabil sebagai syarat bagi laki-laki, yang berniat menyunting seorang wanita.

KH Miftah Faridl, salah seorang ulama terkemuka Jawa Barat juga mendukung pendapat kedua, yang menganggap bahwa pernikahan adalah pembuka pintu ridzki. Membaca uraian beliau dalam buku 150 Masalah Nikah & Keluarga bisa diinsyafi bahwa, kalau seseorang menikah maka dia akan memperoleh ridzki untuk dirinya dan untuk teman hidupnya. Dengan menikah diharapkan, ridzki bertambah dengan salah satu sebab, penyaluran pembiayaan hidup yang lebih baik, dan pengelolaan pembiayaan hidup diatas azas penghematan. Pendapat beliau menjawab pertanyaan penulis tentang : mengapa seorang kawan yang masih membujang dan bekerja di perusahaan mentereng, sering mengeluh kekurangan uang. Partner yang handal dalam mengelola ridzki tak pelak menjadi pertimbangan penting, yang harus dipikirkan seseorang ketika ia memilih pasangan hidup. Kurang-cukupnya ridzki dalam sebuah keluarga akhirnya tidak ditentukan oleh jumlah material, melainkan ditentukan oleh kehandalan dan kemampuan manajerial pasangan pernikahan dalam mengatur cash flow rumahtangga.

* Oleh : Ilyasa Bustomi, Kolumnis artikel Islam. Tulisannya dimuat di Republika, Islam Online, Mutmainna dan majalah Hareetz (Qatar)