Sederhanakan Ucapan, Perbanyak Amal

Everywhere...Around The World!

Perlukah Wanita Bekerja?

Apakah yang sebenarnya melandasi tindakan para ibu untuk bekerja di luar rumah? Motif-motif apa saja yang mendasari kebutuhan mereka untuk bekerja, hingga mereka mau menghadapi berbagai resiko atau konsekuensi yang mungkin dihadapi? Berikut ini adalah beberapa alasannya:

Kebutuhan finansial
Seringkali kebutuhan rumah tangga yang begitu besar dan mendesak membuat suami dan istri harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat sang istri tidak punya pilihan lain kecuali ikut mencari pekerjaan di luar rumah.

Kebutuhan sosial-relasional
Ada pula ibu-ibu yang tetap memilih untuk bekerja karena mempunyai kebutuhan sosial-relasional yang tinggi dan ternyata tempat kerja mereka sangat mencukupi kebutuhan tersebut. Dalam diri mereka tersimpan suatu kebutuhan akan penerimaan sosial dan adanya identitas sosial yang diperoleh melalui komunitas kerja. Bergaul dengan rekan-rekan di kantor adalah hal yang lebih menyenangkan dari pada hanya tinggal di rumah. Faktor psikologis dan keadaan internal dalam keluarga juga mempengaruhi seseorang untuk tetap mempertahankan pekerjaannya.

Kebutuhan aktualisasi diri
Setiap manusia pasti mempunyai kebutuhan akan aktualisasi diri dan menemukan makna hidupnya melalui aktivitas yang dijalaninya. Bekerja adalah salah satu sarana yang dapat digunakan oleh manusia dalam menemukan makna hidupnya. Dengan berkarya, mengekspresikan diri, mengembangkan diri dan orang lain, membagikan ilmu dan pengalaman, menemukan sesuatu, menghasilkan sesuatu, serta mendapatkan penghargaan atau prestasi adalah bagian dari proses pencapaian kepuasan diri. Kebutuhan akan aktualisasi diri melalui karir merupakan salah satu pilihan yang banyak diambil oleh para wanita jaman sekarang, terutama dengan makin terbukanya kesempatan untuk meraih jenjang karir yang lebih tinggi. Bagi wanita yang sejak sebelum menikah memang sudah bekerja karena dilandasi oleh kebutuhan aktualisasi diri yang tinggi, maka ia akan cenderung kembali bekerja setelah menikah dan mempunyai anak. Mereka merasa bekerja adalah hal yang sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri, membangun kebanggaan diri, dan juga mendapatkan kemandirian secara finansial.

Sebuah studi tentang kepuasan hidup wanita bekerja menunjukkan bahwa wanita yang bekerja memiliki tingkat kepuasan hidup sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja, meskipun ada beberapa faktor lain yang ikut menentukan. Selain itu, hasil penelitian yang dimuat dalam Journal of Marriage and the Family tentang ukuran kebahagiaan hidup wanita yang sudah menikah, ditinjau dari tiga kategori (wanita bekerja, wanita pernah bekerja, dan wanita yang belum pernah bekerja), menunjukkan bahwa bagi para istri dan ibu bekerja, kebahagiaan perkawinan adalah tetap menjadi hal yang utama dibandingkan dengan kepuasan kerja.

Sikap suami juga merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan dual-career marriage. Suami yang merasa terancam, tersaingi, dan cemburu dengan status “bekerja” istrinya, umumnya tidak mampu bersikap toleran terhadap keberadaan istri yang bekerja. Ada pula suami yang tidak menganggap pekerjaan istri menjadi suatu masalah, selama istrinya tetap dapat memenuhi dan melayani kebutuhan si suami. Namun, ada pula suami yang justru mendukung karir istrinya dan ikut bekerja sama dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Dalam kondisi yang terakhir ini, pada umumnya sang istri akan lebih dapat merasakan kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup, keluarga, maupun karirnya. Perkawinan dual-career dikatakan berhasil jika antara pihak suami dan istri saling memperlakukan pasangannya sebagai partner yang setara.

Sumber : Journal of Marriage and the Family




1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://h4nim.blogsome.com/2006/07/08/perlukah-wanita-bekerja/trackback/

  1. aktualisasi perempuan tidak harus dgn bekerja setelah menikah, namum bila bekerja menjadi tuntutan dlm aktualisasi diri tetap harus dilihat dengan cermat dampak dan manfaatnya pada kehidupan perkawinan. krn awal2 pernikahan mudah saja pasangan lebih bersikap toleran terhadap apa yg kita kerjakan. namun dgn bertambahnya usia perkawinan dan pertumbuhan anak2 yang membutuhkan perhatian. maka perlu kesepakatan bersama diantara suami istri apakah salah satu harus mengalah untuk lebih memperhatikan anak2 dan kondisi perkembangan rumah tangga dalam hal ini perempuan lah yg hrs mengalah. tp mengalah bukan berarti kalah. bnyk cara utk lebih dapat beraktualisasi di rumah… mengembangkan bakat, hobby yang menghasilkan, sambil tidak perlu jauh2 pergi meninggalkan rumah dan mengawasi si upik iya kan…

    Comment by louise p — August 28, 2007 @ 2:31 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>