November 22, 2006/Filed under:
Tazkiyatun Nafs
“Apabila seseorang dari kamu selesai dari tasyahud akhir, maka hendaklah berlindung kepada Allah dari empat hal: siksa Jahannam, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta kejahatan Masih Dajjal,” HR Muslim dari Abu Hurairah ra.
Diceritakan dari Ibnu Hajar bahwa serombongan orang dari kalangan Tabi’in bertamu ke rumah Abu Sinan. Baru sebentar mereka di rumah itu, Abu Sinan mengajak mereka berziarah ke rumah tetangganya untuk mengucapkan belasungkawa atas kematian saudaranya. Sesampai di sana, mereka mendapati saudara si mayat menangis. Para tamu telah berusaha menghibur dan membujuknya agar tidak menangis, tapi tidak berhasil meredakan tangisannya.
Mereka berkata, “Apakah kamu tidak tahu bahwa kematian mesti dijalani setiap orang?”
“Aku mengerti. Aku sedih karena memikirkan siksa yang telah menimpa saudaraku!” jawabnya.
Mereka bertanya dengan heran, “Apakah engkau mengetahui perkara yang ghaib?”
Ia menjawab, “Tidak. Tetapi, setelah meratakan tanah di atas kuburannya dan para pengantar pulang, aku masih duduk di atas kuburnya. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kubur, ‘Ah… ah… mereka tinggalkan aku seorang diri menanggung siksa. Padahal aku mengerjakan puasa dan shalat,’ Jeritan itu betul-betul membuatku kasihan.Aku berupaya menggali kuburnya, akrena ingin tahu apa yang sudah terjadi di dalamnya. Ternyata, kuburan itu telah penuh dengan api dan di leher si mayat ada rantai dari api. Karena kasihan kepada saudaraku, aku mengulurkan tangan untuk melepaskan rantai itu dari lehernya. Ternyata sebelum sampai di lehernya, tanganku telah terbakar”.
Lantas, ia menunjukkan tangannyya yang masih hitam dan kulitnya terkelupas kepada para tamu.
Dia meneruskan ceritanya, “Aku terus menimbun kubur itu seperti semula dan pulang dengan segera.Maka bagaimana kami tidak akan menangis melihat keadaan saudaraku seperti itu?”
Para tamu bertanya, “Apa kebiasaan saudaramu ketika di dunia?”
Ia menjawab, “Dia tidak mengeluarkan zakat hartanya!”
Mendengar jawaban ini, teman-teman Abu Sinan berkata, “Mahabenar Allah yang telah berfirman, yang artinya;
180. “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.