Allah Ghayatuna
Seseorang yang mengenal Allah dan bertauhid kepada Allah tentu dia akan menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya (Allah Ghayatuna).

Dalam buku Al Insan Al Qurani, Wahiduddin Khan menyebutkan tiga hal yang dapat mengukur tujuan seseorang:
1.Pusat perhatian
Yakni orang yang mempunyai suatu tujuan, tentu akan mengkonsentrasikan dan memusatkan pikiran pada tujuannya. Apabila tujuan manusia adalah ridha Allah, maka yang selalu dipikirkan adalah bagaimana mendapatkan keridhaan-Nya. Ketika mendapat nikmat, ia berpikir apakah nikmat ini dapat digunakan untuk mencari ridha-Nya? Ketika mendapat musibah, ia berpikir apakah musibah ini dapt digunakan untuk beribadah kepada-Nya? Keridhaan Allah selalu menjadi pengisi pikiran, bahan pembicaraan, tolak ukur keberhasilan, dan pemicu seluruh tindakan.
2.Amal yang sesuai
Yakni orang yang mempunyai tujuan tertentu pasti beramal dan berkativitas sejalan dengan tujuannya. Misalnya, orang yang ingin menjadi dokter pasti belajar di fakultas kedokteran, tidak di fakultas teknik.
Orang yang bertujuan menggapai ridha Allah pasti melakukan hal-hal yang diridhai-Nya. Bila ada orang yang tujuannya menggapai ridha-Nya, tetapi yang dilakukan sehari-hari membuat Allah murka, maka ini sangat paradoks.
3.Semangat
Yakni orang yang mempunyai tujuan tertentu pasti bersemangat melakukan hal-hal yang mengantar pada tujuannya. Jika tidak, maka tujuannya sangat lemah dan belum menjadi cita-cita tertinggi. Orang ini akan melakukan amal yang mengantar pada tujuan dengan malas dan tanpa gairah. Allah menggambarkan sikap kaum munafiq saat melakukan shalat,
142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[364]. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya[365] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[366].
[364] Maksudnya: Alah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani Para mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.
[365] Riya Ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.
[366] Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan orang. {QS An Nisaa: 142}

No comments yet.