Technorati.com
Perhaps, this site almost popular among bloggers to promote the blogs, but unfortunately I’ve forgot whether I’ve joined this community or not. Well, today I decides to sign up for it. Technorati Profile
Perhaps, this site almost popular among bloggers to promote the blogs, but unfortunately I’ve forgot whether I’ve joined this community or not. Well, today I decides to sign up for it. Technorati Profile
Karakter yang harus dimiliki untuk menjadi seorang pengusaha (entrepreneur)
Bagaimanapun, untuk menjadi entrepreneur, tak cukup memiliki pengetahuan tentang bisnis. Karakter atau jiwa entrepreneur juga sangat dibutuhkan. Karena itu penting sekali mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut pada diri Anda sendiri untuk mengetahui seberapa besar karakter entrepreneur Anda
1. Berapa besar komitmen Anda ?
Keep On Reading…
INILAH sepuluh peringkat kampus di negeri ini menurut kalangan dunia kerja. Ini berdasarkan hasil survei Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT) sepanjang Desember 2006 - Januari 2007 :
1. UI
2. ITB
3. UGM
4. IPB
5. ITS
6. UNAIR
7. TRISAKTI-Jkt
8. UNPAD
9. ATMAJAYA-Jkt
10. UNDIP
Keep On Reading…
Program Pendampingan Sukses Mahasiswa
SUPER MAHASISWA – DISTINCTIVE TRAINING
Dari sekian banyak sarjana yang lulus ternyata hanya sedikit orang saja yang
mampu menang dalam persaingan. Dan lebih sedikit lagi yang mampu mendapatkan
posisi terbaik di perusahaannya.
Keep On Reading…
Sebenarnya tidaklah mudah untuk bisa mempertahankan konsentrasi dengan baik. Ada banyak hal yang dapat membuat konsentrasi seseorang melemah ataupun menjadi pecah, dan akhirnya setiap karya seseorang tidak memberikan hasil yang maksimal. Agar konsentrasi bisa tetap terjaga, berikut ini ada beberapa tip yang dapat kita lakukan:
* Sebelum kita mulai melakukan aktivitas, sedapat mungkin hindarilah hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi kita
* Cobalah bersikap tenang dan melupakan semua masalah yang kita hadapi sebelumnya. Kita bisa meluangkan waktu sejenak untuk kembali menstabilkan emosi kita
* Buang jauh-jauh semua hal negatif yang dapat mengganggu pikiran kita. Kalimat-kalimat negatif seperti “Saya takut” atau “Saya takut gagal” sebaiknya dibuang jauh-jauh karena hanya akan mematikan motivasi dan mengurangi semangat kita dalam bekerja. Percayalah pada semua kemampuan dan potensi yang ada dalam diri kita dan hadapilah semua tugas kita dengan rasa yang optimis
* Jangan sampai kita merasa bosan, karena hal itu hanya akan membuat pikiran melayang tak tentu arah dan akhirnya justru menghilangkan konsentrasi kita sama sekali. Untuk itu, buatlah jeda selama beberapa menit saat bekerja dengan cara melakukan hal lain yang berbeda dengan apa yang kita kerjakan sebelumnya.
Apakah yang sebenarnya melandasi tindakan para ibu untuk bekerja di luar rumah? Motif-motif apa saja yang mendasari kebutuhan mereka untuk bekerja, hingga mereka mau menghadapi berbagai resiko atau konsekuensi yang mungkin dihadapi? Berikut ini adalah beberapa alasannya:
Kebutuhan finansial
Seringkali kebutuhan rumah tangga yang begitu besar dan mendesak membuat suami dan istri harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat sang istri tidak punya pilihan lain kecuali ikut mencari pekerjaan di luar rumah.
Kebutuhan sosial-relasional
Ada pula ibu-ibu yang tetap memilih untuk bekerja karena mempunyai kebutuhan sosial-relasional yang tinggi dan ternyata tempat kerja mereka sangat mencukupi kebutuhan tersebut. Dalam diri mereka tersimpan suatu kebutuhan akan penerimaan sosial dan adanya identitas sosial yang diperoleh melalui komunitas kerja. Bergaul dengan rekan-rekan di kantor adalah hal yang lebih menyenangkan dari pada hanya tinggal di rumah. Faktor psikologis dan keadaan internal dalam keluarga juga mempengaruhi seseorang untuk tetap mempertahankan pekerjaannya.
Kebutuhan aktualisasi diri
Setiap manusia pasti mempunyai kebutuhan akan aktualisasi diri dan menemukan makna hidupnya melalui aktivitas yang dijalaninya. Bekerja adalah salah satu sarana yang dapat digunakan oleh manusia dalam menemukan makna hidupnya. Dengan berkarya, mengekspresikan diri, mengembangkan diri dan orang lain, membagikan ilmu dan pengalaman, menemukan sesuatu, menghasilkan sesuatu, serta mendapatkan penghargaan atau prestasi adalah bagian dari proses pencapaian kepuasan diri. Kebutuhan akan aktualisasi diri melalui karir merupakan salah satu pilihan yang banyak diambil oleh para wanita jaman sekarang, terutama dengan makin terbukanya kesempatan untuk meraih jenjang karir yang lebih tinggi. Bagi wanita yang sejak sebelum menikah memang sudah bekerja karena dilandasi oleh kebutuhan aktualisasi diri yang tinggi, maka ia akan cenderung kembali bekerja setelah menikah dan mempunyai anak. Mereka merasa bekerja adalah hal yang sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri, membangun kebanggaan diri, dan juga mendapatkan kemandirian secara finansial.
Sebuah studi tentang kepuasan hidup wanita bekerja menunjukkan bahwa wanita yang bekerja memiliki tingkat kepuasan hidup sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja, meskipun ada beberapa faktor lain yang ikut menentukan. Selain itu, hasil penelitian yang dimuat dalam Journal of Marriage and the Family tentang ukuran kebahagiaan hidup wanita yang sudah menikah, ditinjau dari tiga kategori (wanita bekerja, wanita pernah bekerja, dan wanita yang belum pernah bekerja), menunjukkan bahwa bagi para istri dan ibu bekerja, kebahagiaan perkawinan adalah tetap menjadi hal yang utama dibandingkan dengan kepuasan kerja.
Sikap suami juga merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan dual-career marriage. Suami yang merasa terancam, tersaingi, dan cemburu dengan status “bekerja” istrinya, umumnya tidak mampu bersikap toleran terhadap keberadaan istri yang bekerja. Ada pula suami yang tidak menganggap pekerjaan istri menjadi suatu masalah, selama istrinya tetap dapat memenuhi dan melayani kebutuhan si suami. Namun, ada pula suami yang justru mendukung karir istrinya dan ikut bekerja sama dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Dalam kondisi yang terakhir ini, pada umumnya sang istri akan lebih dapat merasakan kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup, keluarga, maupun karirnya. Perkawinan dual-career dikatakan berhasil jika antara pihak suami dan istri saling memperlakukan pasangannya sebagai partner yang setara.
Sumber : Journal of Marriage and the Family
Negosiasi, kini menjadi sebuah keahlian atau kompetensi kunci dalam berbisnis. Perusahaan-perusahaan secara agresif memburu executive yang jago negosiasi dan rela untuk mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengasah karyawan yang ada untuk jadi negosiator ulung. Alasannya sederhana namun ‘dalam’, karena dalam setiap interaksi dan transaksi, khususnya dalam situasi bisnis, semua pihak ingin mendapatkan tawaran yang terbaik.
Sesungguhnya negosiasi ada di setiap situasi, tidak hanya dalam bisnis. Dari mulai negosiasi batas kelautan antar negara, perdagangan senjata, evakuasi korban merapi, jual-beli produk dan jasa, negosiasi antara suami dengan isteri, bahkan orang tua dengan anak remajanya. Kerap kita dihadapkan pada situasi negosiasi dengan pihak yang sama sekali asing, namun tidak jarang juga kita berhadapan dengan pihak yang sudah akrab, seperti teman atau mitra bisnis. Dengan siapa pun kita berhadapan dalam proses negosiasi, ketegangan pasti terasa. Meskipun kata-kata “win-win situation” senantiasa didengung-dengungkan, namun tetap saja, posisi kedua belah pihak negosiator adalah berseberangan.
Orang yang terbiasa bernegosiasi, umumnya punya kesadaran akan ‘gaya’ negosiasi mereka, kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki dalam negosiasi. Mengasah ketrampilan negosiasi akan menimbulkan kesadaran akan ‘kartu-kartu’ apa yang Anda punya dan kapan waktu yang tepat untuk ‘memainkannya’, serta tentu saja, menambah kepercayaan diri untuk memenangkan negosiasi, bahkan sebelum negosiasi dilakukan.
Beberapa faktor yang perlu dikenali oleh para profesional sebelum terjun ke arena negosiasi adalah;
Seberapa “well informed”-kah anda?
Informasi mengenai kebutuhan lawan, waktu pengadaan, urgensi kebutuhan serta kompetisi yang ada, perlu lengkap dan luar kepala. Tentunya ini sudah termasuk pengetahuan ‘produk’, baik produk kita sendiri, maupun produk pihak lain, beserta peta kompetisinya. Informasi ini bahkan terkadang mencakup informasi detil yang tidak ada batasnya, sampai ke kehidupan pribadi ataupun borok lawan sekali pun. Bagi negosiator, informasi adalah amunisi. Semakin ”well informed” seorang negosiator, semakin banyak amunisinya.
Berapa kartu yang anda bawa?
Negosiasi ibarat bermain kartu . Bila anda hanya berniat maju-mundur di harga saja, maka anda seolah berperang dengan satu senjata. Seorang negosiator unggul punya banyak aspek yang bisa dinegosiasikan. Sebenarnya permainan aspek-aspek inilah yang pada akhirnya bisa membuat setiap pihak merasakan situasi “win-win”. Misalnya, Anda tahu bahwa pelanggan butuh produk anda segera, dan ia tidak bisa mendapatkannya dari tempat lain; ini adalah kesempatan Anda untuk mendapatkan harga bagus. Pelanggan toh ‘menang’ juga karena mendapatkan produknya tepat waktu.
Jadilah Sutradara
Seringkali karena ketegangan dan keinginan untuk menggolkan negosiasi, kita lupa bahwa suasana berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Tanggung jawab menciptakan suasana adalah ada di tangan orang yang menyadari dan ingin menguasai situasi. Oleh karenanya, jadilah sutradara. Dengan kontrol yang baik terhadap situasi , kita bisa membuat lawan bermain di arena kita. Dengan terjadinya negosiasi di arena yang kita kuasai, kita dapat mengatur irama sambil membaca situasi lebih baik.
Personal tetapi “Don’t take it personally”
Orang sering mengatakan bahwa dalam bernego, kemampuan berhitunglah yang menunjang kesuksesan kita. Hal ini sangat saya setujui. Kita perlu tahu berapa untung atau berapa rugi kita saat pilihan dijatuhkan. Namun demikian, hanya dengan pendekatan personal-lah kita bisa masuk dan meraba informasi yang lebih dalam tentang pihak lawan, dengan pendekatan personal jugalah kita dapat mematahkan lawan. Senyum, misalnya, adalah senjata klasik paling jitu untuk membawa pesan “saya menyukai anda”, yang pastinya lebih bermanfaat daripada pesan misalnya “saya paling tahu”, atau “saya tahu semua tentang anda”. Sebaliknya , agar kita tidak jatuh di arena lawan, perlu juga kita berlatih untuk memasang “poker face”, dimana dibalik senyum kita, lawan tidak bisa membaca sinyal. Dalam negosiasi, kita perlu sekali menyadari bahwa ini hanyalah suatu proses di mana kita hanya menjadi “duta” instansi. Kata-kata atau kalimat penekanan dari pihak lawan hendaknya dihadapi dengan sikap “cool”dan cermat, dan tidak membuat kita marah atau tersinggung.
(Ditayangkan di KOMPAS, 3 Juni 2006)
by: Eileen Rachman & Yuliana Saputra
Monday, June 12, 2006
“Saya introvert. Saya tidak tahu harus berkata apa, bila menghadapi klien”
Alasan ini berulang kali keluar dari mulut beberapa orang profesional yang merasa lelah karena diuber-uber target untuk melakukan networking. Di masa sekarang, di mana membangun hubungan dengan pihak internal maupun eksternal perusahaan menjadi syarat kesuksesan pekerjaan dan kesuksesan organisasi, networking tidak lagi menjadi sesuatu yang ketrampilan yang ‘nice to have’ (bagus untuk dimiliki) tapi menjadi sesuatu yang ‘necessary to have’ (harus dimiliki). Suka tidak suka, networking adalah key performance indicator-nya para executive.
Banyak orang menganggap bahwa networking adalah dominasi orang dengan tipe kepribadian ekstrover. Ekstrover adalah mereka yang mendapatkan gairah hidup dari interaksi dengan banyak orang disekitarnya. Karakteristik ekstrover adalah luwes dalam bergaul, senang berada ditengah pesta dan bertemu dengan orang-orang baru, yang berpotensi untuk mendukung keberhasilan pekerjaannya. Networking tampaknya sudah menjadi hal yang alami bagi mereka.
Bagaimana dengan si Introver? Orang dengan tipe introver mendapatkan energi dari dalam dirinya sendiri. Mereka tidak suka dengan pesta atau pertemuan sosial yang mengharuskannya bertemu dan berbicara dengan banyak orang. Bila pun menghadiri suatu pertemuan, ia berinteraksi dengan beberapa orang-orang saja, juga lebih banyak mengambil peran sebagai pendengar. Bagi mereka yang tidak terlalu menikmati pertemuan dengan banyak orang, membangun jejaring memang membutuhkan waktu dan usaha. Pertanyaannya kemudian, apakah karakteristik seorang introver menyebabkan mereka kurang berhasil mengembangkan networking dibandingkan mereka yang ekstrover? Jawabannya: belum tentu!
Kenyataannya adalah networking tidak selalu mudah, bahkan untuk ekstrover sekali pun. Pada dasarnya networking merupakan usaha untuk mengembangkan hubungan dengan orang-orang yang ada disekitar, bisa berupa interaksi dengan orang lain ataupun pertukaran informasi. Setiap orang perlu mengembangkan ’gaya’ atau pendekatan networking yang khas dan manjur bagi diri mereka masing-masing, disesuaikan dengan karakteristik kepribadiannya. Bagi si introver, menjadi pendengar yang baik dan menunjukkan kesediaan untuk membantu orang lain, bisa jadi merupakan modal utama baginya. Membangun kepercayaan diri untuk melakukan networking dapat dilakukan dengan mendefinisikan ulang esensi dari networking, yaitu tidak hanya sekedar ’gaul’ saja atau ’luwes’ saja, tapi membangun kepercayaan dan hubungan yang bermakna dan mendukung kesuksesan pekerjaannya.
Beberapa langkah agar introver dapat mengembangkan ’gaya’ dan pendekatan khas untuk menjadi jago networking adalah:
Eksplorasi Kelebihan, Temukan Keunggulan
Gali kelebihan yang dapat digunakan untuk mengembangkan hubungan dengan orang lain. Beberapa di antaranya yang khas bagi introver adalah senang mendengarkan orang lain, bisa mengingat hal kecil, senang membantu, tidak sungkan memberikan pujian.
Miliki Alternatif yang sesuai Gaya dan Kelebihan Anda
Beberapa kegiatan ini dapat dilakukan, misalnya:
- Perkuat hubungan non-tatap muka, misalnya dengan mengirim e-mail /sms berisi cerita, anekdot, atau humor, untuk menyegarkan hubungan.
- Memanfaatkan kegiatan seminar atau training daripada pergi ke pesta.
- Kirimkan kartu ucapan selamat, sebagai tindak lanjut dari informasi yang dimiliki atas diri target networking.
Tetapkan Target Spesifik dan Realistik
Tujuannya adalah agar Anda dapat mengukur dan mengevaluasi progress dari usaha Anda mengasah ketrampilan networking dan secara bertahap dapat meningkatkan target networking Anda. Tentukan, misalnya
- Berapa jumlah kontak atau ”say hello” dalam waktu seminggu.
- Berapa kali melakukan kegiatan bersama dengan klien atau rekan kerja sebulan sekali, bisa berupa makan siang, olah raga, atau belanja bareng.
- Berapa orang yang akan Anda dekati dalam suatu ajang networking.
Miliki Skenario
Tak jarang orang tipe introver merasa tidak nyaman bila harus menelpon seseorang yang belum dikenalnya. Adanya panduan dan skenario akan membantu untuk mengembangkan pembicaraan.
Pertolongan : komoditi seorang networker
Sepanjang kita menyadari bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan akan referensi, kita masih bisa melakukan networking. Banyak sekali orang tidak kenal restoran yang paling asik. Banyak sekali orang merasa beruntung bila diperkenalkan pada rekanan bisnis baru. Nomor nomor telpon penting sering tidak dipunyai orang lain. Semua itu bisa kita jadikan materi ”sharing” yang menarik sekaligus menguntungkan semua pihak. Dengan membiasakan hal ini hubungan tolong menolong terjadi secara wajar dan otomatis.
Membangun jejaring merupakan salah satu alat untuk membangun hubungan yang berjangka panjang. Siapapun dapat melakukannya, dan banyak alternatif untuk mewujudkannya, sesuai dengan karakteristik pribadi masing-masing. Jika Anda berperan sebagai manager, kiat ini dapat pula Anda gunakan untuk melatih dan memberi dukungan pada anak buah Anda yang introver, sehingga dapat membantunya memanfaatkan hubungan baik tersebut untuk keberhasilan dalam pekerjaannya.
(Ditayangkan di KOMPAS, 10 Juni 2006)
by: Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh
Monday, June 12, 2006
Tidak sedikit saya bertemu karyawan yang curhat mengatakan bahwa tidak ada bedanya jadi pekerja ‘biasa-biasa’ saja dengan pekerja yang banting tulang dan ‘luar biasa’.
“Tetap saja saya harus melalui jalur standar. Menunggu kenaikan pangkat dan gaji masal. Lama kelamaan saya berkesimpulan, orang yang menonjol atau tidak, tidak terlihat di perusahaan”
Barangkali ini seperti cerita klise. Anda sudah melakukan outstanding job, namun tetap tidak ada yang peduli? Jangankan mendapat reward, justru orang lain yang dipromosikan. Jengkel tentu saja. Mau protes? Nanti dulu. Coba pikir lagi, kapan anda pernah berupaya secara khusus agar atasan melirik prestasi Anda? Sudahkah anda ‘menjual’ diri agar orang tahu kemampuan anda? Jangan-jangan selama ini anda hanya duduk manis di balik meja, merespon semua instruksi, bekerja cepat, atau menyelesaikan setiap masalah dan keluhan. Anda tidak pernah tahu kapan orang-orang menyadari kesuksesan anda selama ini.
Sadari beberapa poin krusial ini, jika Anda benar-benar ingin ‘dilirik’ dan diakui keberadaan dan kontribusinya dalam organisasi.
1. Ingat: Kerja Keras itu “Biasa “
Sudah sewajarnya seorang profesional yang bekerja di sebuah organisasi bekerja keras. Rekan-rekan sejawat Anda juga dituntut untuk menampilkan semangat yang sama. Jangan pernah bandingkan diri kita dengan orang yang tidak bekerja keras. Masalahnya sekarang adalah selain bekerja keras, kita perlu dikenal dan telihat “kinclong”. Ketidaksadaran individu untuk menjual hasil karyanya inilah yang sering membuatnya tenggelam. Kerap kita mendengar ungkapan “Saya hanya seorang administrator”. Apakah seorang administrator tidak bisa menonjol dan meraih puncak karir dalam organisasi?
2. Ciptakan Nilai Tambah
Keahlian tidak bersifat instan dan tidak terikat gelar pendidikan. Keahlian justru dimatangkan oleh pengalaman di lapangan, dari proyek yang ditangani, dari persoalan yang muncul, atau dari kesalahan yang dibuat. Anda perlu mem-’bungkus’-nya agar keahlian ini bisa mengendap, muncul, dan membawa perubahan dan gaya dalam pemecahan masalah khas Anda. Prinsipnya, jangan hanya bisa mengerjakan sesuatu, tetapi jadilah ahli solusi yang memiliki gaya khas! Hanya dengan nilai tambah yang signifikan, profesionalitas anda menjadi “luar biasa”.
3. Bersahabat dengan Ide dan Rangkul Peluang
Seringkali saya sedih bila individu melihat sukses dikaitkan dengan jenis pekerjaannya. Seolah ada pekerjaan kelas satu dan kelas kambing. Suami saya yang hafal sejarah luar kepala, mendapatkan pelajaran dari seorang guru yang selalu melakukan “roleplay” dengan penggaris, kursi dan alat bantu sederhana lain yang ada di dalam kelas untuk mengajarkan sejarah. Bukankah ini suatu cara kreatif? Tidak selamanya ide kreatif harus datang dari eksekutif top atau bagian kreatif perusahaan. Ide sekecil apapun, bila digarap sungguh-sungguh bisa merubah sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi perusahaan.
Apapun peran yang Anda emban di organisasi, ingatlah untuk selalu mencari peluang yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain. Anda bekerja di bagian back office? Ciptakan alur kerja yang lebih efisien untuk kemudahan kerja unit anda, dan hitung dampaknya terhadap cost. Cari sebanyak mungkin kesempatan, dan lakukan eksekusi secara cermat. Cari dukungan dari orang-orang yang mau mendengarkan dan membantu menjual ide anda. Sekali Anda berpikir tentang ide, Anda akan terus kritis mencari celah untuk kemajuan kerja dalam skala yang lebih luas, bahkan hingga ke tahap organisasi.
4. Sekali Luar Biasa Tidak Selamanya Luar Biasa
Seorang manajer pemasaran yang berhasil meluncurkan produk dan bahkan mendongkrak angka penjualan produknya dengan 100% tidak bisa berada di dalam “comfort zone”. Ia tidak bisa mengklaim sejarah kesuksesannya untuk waktu yang lama. Bila ia tidak menciptakan kesuksesannya kembali, apakah melalui kegiatan yang sama dengan target lebih atau kegiatan lain dengan hasil yang lagi lagi menonjol, maka ke “terlihatan” nya pun akan berangsur pudar.
5. Jual dan Tonjolkan Keberhasilan
Saat Anda dan tim mencapai kesuksesan dalam proyek atau menemukan solusi yang hasilnya luar biasa, jangan lalu berhenti. Bagilah pengalaman Anda kepada orang lain. Manfaatkan media komunikasi di perusahaan, apakah bulletin, intranet atau website yang paling mungkin dibaca oleh orang-orang penting di perusahaan anda. Gali masukan dan diskusikan lebih lanjut dengan orang-orang yang berkepentingan. Cari orang-orang yang bisa membantu Anda menuangkan kisah sukses anda secara cerdas.
Sukses anda, sekecil apapun, bila dikemas dengan cantik, bisa memberi inspirasi kepada orang banyak. Hal yang lebih penting lagi, “sense of success” akan berdampak luar biasa bagi kemajuan anda pribadi. Jangan pernah takut untuk menampilkan keberhasilan anda kepada orang lain. Katakan “Saya berupaya keras dan telah berhasil” dengan penuh percaya diri, dan suarakan secara positif dan tepat.
(ditayangkan di Kompas, 24 Juni 2006)
“Pertamanya harus fokus dulu. Kalau sudah fokus, maka Anda akan menjadi profesional. Dan jangan lupa untuk do the best.”
Akhir tahun lalu, Robert T Kiyosaki, penulis kondang buku-buku “provokatif”, yang membolak-balik pikiran pembacanya dengan teori cashflow quadrant mampir ke Indonesia. Selama beberapa hari, ia menjadi pembicara di seminar yang dihadiri para “penggemar”nya yang selama ini hanya bersentuhan dengannya lewat buku. Pada saat itu, ada satu orang yang tampak sangat sibuk mempersiapkan kedatangan Robert Kiyosaki, dialah Tung Desem Waringin, ia orang kepercayaan Kiyosaki di Indonesia. Kepada EI, Tung – begitu ia sering disapa, berbicara banyak soal kecenderungan orang untuk hidup di dua kuadran. Berikut petikannya:
Bagaimana pendapat Bapak mengenai orang-orang yang hidup di dua kuadran?
Menurut saya, itu adalah hak asasi manusia karena sebetulnya tidak ada undang-undang dan aturan apapun yang melarang orang memiliki penghasilan lebih dari satu. Fenomenanya sudah lama sekali. Sementara itu, di dunia karyawan sekarang ini tidak ada pekerjaan yang aman karena semua berpeluang untuk kehilangan pekerjaan. Apakah karena dipecat atau karena pensiun. Dengan kondisi seperti ini, kalau misalnya ada atasan yang melarang karyawannya mempunyai penghasilan di luar pekerjaan, itu dasarnya apa? Kecuali perusahaan memang sangat membutuhkan fokus Anda. Tetapi kalau dilakukan di luar jam kerja dan tidak mengganggu pekerjaan, menurut saya itu tidak apa-apa.
Ada beberapa perusahaan yang menerapkan kebijakan terhadap karyawannya untuk tidak berusaha di tempat lain, bagaimana pendapat Bapak?
Sekarang begini, kalau saya punya frenchise Indomaret atau Alfamart boleh nggak? Tetapi saya tetap menjadi karyawan di tempat atau perusahaan itu. Kecuali memang ada perusahaan yang jelas-jelas tidak membolehkan karyawannya mempunyai usaha atau karyawan tersebut boleh mempunyai usaha lain asal sepengetahuan perusahaan. Karena sesungguhnya, apa yang harus dikhawatirkan? Menurut saya, selama itu tidak mengganggu jam kerja perusahaan, hal tersebut sah-sah saja.
Tingkah laku orang-orang di dua kuadran itu seperti apa?
Ada dua macam. Dalam artian, pertama, ada yang mempunyai usaha yang dilarang perusahaan atau tidak disukai karena mereka menggunakan fasilitas perusahaan dan kenalan perusahaan untuk keperluan bisnisnya. Kondisi inilah yang tidak diharapkan oleh perusahaan. Kedua adalah profesional. Orang-orang ini mampu membedakan mana kepentingan perusahaan tempatnya bekerja dengan kepentingan bisnisnya secara pribadi.
Bagaimana jika menggunakan jaringan kantor?
Ya, kalau sekadar untuk kenalan mungkin masih bisa ditoleransi. Tetapi tetap selama kenalan tersebut masih dalam hal profesional.
Apa kelebihan dan kekurangan hidup di dua kuadaran?
Oh, banyak. Memang, memulai bisnis itu sendiri memang agak repot. Sehingga banyak dari mereka yang tidak fokus. Bayangkan kalau dia tidak mempunyai orang dan sistem yang tepat, kemungkinan bangkrut jauh lebih besar daripada dia mulai sendiri dan fokus. Kelebihannya kalau dia punya sistem dan orang yang tepat bisa jalan dengan dan atau tanpa dia. Dia dapat income yang lebih karena lebih tenang dalam menjalani hidup. Kalau ada apa-apa, misalnya, perusahaanya diambil alih oleh orang asing, itu manajemennya jadi ganti nggak? Bisa jadi manajemen pemilik baru dan pasti akan ada yang tersingkir. Kalau dia punya usaha sendiri dia akan jauh lebih tenang dan aman.
Masalah apa yang sering dihadapi oleh orang-orang yang hidup di dua kuadran?
Kita harus ingat, perusahaan membutuhkan sistem dan orang agar berjalan dengan lancar. Sementara banyak orang yang memiliki usaha sendiri itu tidak memiliki sistem yang baik. Contohnya, dalam rekrutmen karyawan, banyak diantara mereka yang lebih memilih keluarga sendiri untuk menjadi karyawan. Bahkan kadang kala karyawan tersebut tidak tepat sasaran. Ini jelas saja akan menimbulkan masalah bagi perusahaan. Intinya, sistem itu perlu untuk diperhatikan karena yang namanya masalah akan tetap ada, tetapi kalau perusahaan mempunyai sistem yang baik setidaknya masalah bisa diminalisir. Untuk itu, bangunlah sistem yang kuat baik dari segi marketing, kontrol, dan sistem SDM-nya karena jika sistem yang dipegang perusahaan itu kuat maka negaranya juga kuat. Pilihlah orang-orang yang mempunyai gairah kerja, integritas, bisa dipercaya, dan memiliki skill.
Baik mana hidup di satu kuadran atau dua kuadran?
Yang paling enak punya frenchise. Kita bisa jual ke orang lain, setelah frenchise-nya besar dan go public kan lebih enak. Itulah yang paling menyenangkan.
Berarti lebih bertahan di dua kuadran?
Hm, begini, saya mempunyai teman, sebetulnya dia tidak perlu lagi bekerja di perusahaan karena dia sudah kaya tetapi dia masih tetap bekerja. Teman saya yang lain nanya, “Kamu tsudah punya Fuji Film, Indomaret, dll dan hasilnya juga jauh lebih besar dari gaji kamu, mengapa masih mau bekerja di perusahaan orang?” Teman itu sambil tersenyum menjawab, bahwa dia butuh “bersandar” untuk tetap eksis. Sebetulnya menurut saya, kalau sudah besar seperti itu, orang tidak membutuhkan sandaran lagi. Seperti saya, dulu saya bersandar pada Antoni Robins, Robert T Kyosaki sebagai Excekutif Authorized Consultant. Tetapi ketika mulai besar mereka juga membutuhkan saya sebagai patner, bukan karyawan.
Kalau begitu ada hubungan dengan sikap mentalnya?
Ya, mental dia sudah biasa menjadi karyawan jadi dia takut ketika berhadapan dengan dunia yang berbeda.
Apakah orang yang berada di dua kuadran cenderung memiliki sikap mental seperti itu?
Kecenderungan seperti itu ada. Mungkin saja mereka pernah punya pengalaman buruk. Misalnya, perusahaannya pernah diakuisisi sehingga dia berpikir tidak ada pekerjaan yang aman. Tetapi tidak semua orang seperti itu, ada juga yang benar-benar bisa profesional. Contohnya, Pak Teddy Rahmat. Zaman dulu dia sudah punya perusahaan tetapi dia juga bisa bekerja dengan bagus di Astra.
Kiat-kiat agar bisa sukses di dua kuadran?
Pertamanya harus fokus dulu. Kalau sudah fokus, maka Anda akan menjadi profesional. Dan jangan lupa untuk do the best. Saya dulu pernah kerja di satu bank dan berada di dua kuadran. Pada saat jadi profesional, cabang saya one of the best. Semua lancar, hasil auditnya terbaik terus se-Indonesia. Menjadi pertumbuhan kartu ATM dan kartu kredit terbesar di Indonesia. Nah, kalau kita sudah seperti itu, everything is alright. Sistem jalan, semua baik, marketing, auditor, maupun sistem kontrolnya.
Apa inti dari ajaran Cashflow Quadrant yang dikemukakan oleh Robert T Kiyosaki itu?
Cashflow quadrant itu sebenarnya sangat tajam. Jadi tidak heran bukunya Robert T. Kyosaki yang Rich Dad Poor Dad dan Cashflow Quadrant menjelajah dunia karena dia begitu tajamnya. Di bawah orang untuk employee, start untuk employee adalah memperkerjakan diri sendiri professional. Kalau dia pedagang nanti ditinggal nggak bisa tapi kalau ditungguin ada. Bisnis Owner dengan syarat kalau dia meninggalkan bisnisnya akan semakin besar. Toko buku saya ditinggal satu tahun, tapi makin besar karena sudah ada sistem dan orangnya. Kemudian investor yang memutar uang untuk berkembang tanpa harus terlibat. Intinya empat hal itu dan itu sangat tajam sekali.
Apakah teori casflow quadrant ini sudah ada sebelumnya atau memang baru diperkenalkan oleh Robert T Kiyosaki?
Cashflow quadrant yang mencetuskan pertama kali Robert T Kyosaki. Dia menyederhanakan dari teori-teori yang sudah ada. Sebetulnya Rich Dad-nya Robert T Kyosaki itu ada tujuh bukan satu. Tetapi agar mudah disederhanakan seolah belajar dari satu orang. Sebenarnya ilmu tadi sudah ada dan dia menyederhanakan agar dapat membuat orang belajar lebih mudah.
Apa yang menginspirasi Bapak sampai bisa seperti sekarang ini?
Keinginan untuk berarti kepada orang banyak. Manusia itu ada enam kebutuhan. Ada sisi aman, ada yang butuh variasi maka dia suka bertualang, ada yang butuhnya relationship, makanya dia berkeluarga dan ada orang butuh pendidikan, ada orang yang berkeinginan lebih baik, jadi harus ada peningkatan, ada orang yang ingin mempunyai kontribusi. Nah, kalau saya yang ke-enam tadi. Saya ingin hidup berarti untuk orang banyak dengan memberi teladan.
(EI*** http://www.cybermq.com/cybermq/detail_artikel.php?id=280&noid=4)
Dicari penulis/calon penulis untuk menjadi para lebah.
Syarat: - muslim/muslimah
- bervisi membangun dunia anak dan remaja
- siap menulis dengan target ketat
contact me for further information! ^_^
* only for business and da’wah purpose
Keahlian Berkomunikasi (baca: Menulis) Adalah Kunci Keberhasilan Kaum Profesional
“Communication is the most important skill in life.”– Stephen Covey
(Pengarang Seven Habits)
“Reading maketh a full man, conference a ready man, and writing an exact man” – Sir Francis Bacon
(Bapak Ilmu Pengetahuan Modern)
“Writing – the art of communicating thoughts to the mind – is the great invention in the world Great, very great, it enabling us to converse with the dead, the absent, and the unborn, at all distances of time and space, and great not only in its direct benefits, but its great help to all other inventions.” – Abraham Lincoln
(Mantan Presiden Amerika)
“From poetry to letters to stories to laws, we must learn to write in order to participate in the range of experiences available to us as human beings. Our spiritual lives, our economic success, and our social networks are all directly affected by our willingness to do the work necessary to acquire the skill of writing. In a very real way neither our democracy nor our personal freedoms will survive unless we as citizens take the time and make the effort needed to learn how to write.” — Mantan Senator, Bob Kerry
(National Commission on Writing)
“Kemampuan menulis setiap orang hanya dibatasi oleh imajinasi.”– Ikhwan Sopa
(Kayaknya belon ada yang ngomong begini)
Sebagai profesional, kita dituntut untuk selalu berhubungan dengan pihak lain. Berhubungan dengan pihak lain dilakukan dengan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi dengan baik, benar, efektif dan efisien adalah tuntutan mutlak bagi kemajuan karir, enterpreneurship dan leadership. Itu sebabnya orang-orang yang punya karir bagus, pengusaha sukses dan para pemimpin besar bisa dipastikan hebat dalam berbicara, menulis, membaca dan mendengar.
Kita bisa memastikan hal itu dengan melihat berbagai fakta sejarah dari orang-orang terkenal. Lihatlah Adolf Hitler, Mussolini, Bung Karno, Bung Hatta, RA Kartini, Fidel Castro, Saddam Husein, Kwik Kian Gie, Gde Prama, Rhenald Kasali, Bondan Winarno atau Hermawan Kertajaya. Itu semua masih terlalu sedikit untuk mewakili semua contoh nyata.
Pidato mereka begitu terkenal, menjadi inspirasi dan didengar oleh banyak orang. Kata-kata mereka menjadi kutipan abadi. Buku, tulisan dan bahkan surat-surat pribadi mereka menjadi best seller sepanjang zaman. Mereka telah membaca begitu banyak literatur dan referensi. Apa yang mereka baca selalu dianjurkan untuk dibaca oleh semua orang lain hanya karena mereka membacanya, dengan harapan kemampuan mereka bisa diwarisi oleh para pengikutnya. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang sangat pandai dalam mendengarkan orang lain, situasi dan keadaan. Mereka adalah para ahli dalam berkomunikasi.
Mengapa toko buku tak pernah sepi dari pengunjung? Mengapa sepatah dua patah kata dari para tokoh dan selebriti selalu diharapkan dalam setiap event? Mengapa kursus bahasa Inggris dan ilmu komputer begitu laris? Mengapa iklan di media massa dipandang sebagai cara efektif untuk mendongkrak penjualan? Mengapa narasumber tertentu begitu sibuknya menjawab pertanyaan konsultasi atau memberikan seminar dan pelatihan? Kuncinya adalah fakta bahwa setiap orang secara alamiah sangat menghargai kemampuan berkomunikasi!
Jika kita cermati, kemampuan berkomunikasi dikembangkan dari empat modal pokok yaitu:
- Listening atau mendengar;
- Speaking atau berbicara;
- Reading atau membaca; dan
- Writing atau menulis.
Perhatikan bahwa empat modal dasar di atas tidak pernah berdiri sendiri. Perhatikan pula bahwa urut-urutannya tidak bisa ditentukan dengan ranking. Anda pasti yakin bahwa sekalipun writing atau menulis dalam modal dasar di atas diletakkan di baris akhir, keberadaannya harus tetap merupakan satu kesatuan dengan modal dasar lainnya secara proporsional dan berimbang. Apa yang harus kita lakukan adalah mencapai keseimbangan itu dengan menulis sebanyak kita berbicara, mendengar dan membaca. Anda bisa mencapai apa yang Anda cita-citakan dalam karir, enterpreunership dan leadership hanya jika Anda memiliki bekal yang lengkap. Salah satunya, adalah kemampuan menulis.
Mengapa harus Menulis?
Dalam berkomunikasi lisan, kita menyampaikan ide kepada orang lain. Komunikasi itu hanya akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak disampaikan memang bisa tepat sama dengan apa yang dipersepsi oleh pihak penerimanya. Dalam menulis, kata-kata adalah batu bata dalam berkomunikasi yang memiliki fungsi sama. Berbicara kepada anak-anak membutuhkan bahasa lisan yang bisa dimengerti dan dipahami oleh anak-anak. Berbicara kepada orang tua dari kaum profesional menuntut hal yang sama. Begitu pula dengan menulis. Jika Anda sudah berbicara seumur hidup Anda, maka Anda sangat mungkin tidak menghadapi kendala dalam berkomunikasi lisan. Akan tetapi, jika akumulasi aktivitas menulis Anda hanya 3 tahun sementara usia Anda sudah 25 tahun atau lebih, maka Anda sangat mungkin mengalami berbagai kesulitan dalam berkomunikasi secara tertulis. Sebabnya hanya satu, jam terbang Anda dalam menulis masih terhitung rendah. Maka sekali lagi, kita tidak punya pilihan lain kecuali mencoba untuk menulis sebanyak kita membaca, sebanyak kita mendengar dan sebanyak kita berbicara.
Formulir, laporan, proposal, hasil pertemuan, perjanjian, pernyataan, research memo, judicial review dan sebagainya jelas menuntut keahlian menulis yang baik. Itu artinya perlu latihan, brainstorming dan diskusi. Salah satu media latihan yang terbaik adalah menulis di berbagai media seperti jurnal, majalah, surat kabar dan sebagainya atau bahkan menulis buku. Maka, menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari profesi seseorang.
Francis Bacon (filsuf Inggris yang disebut sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan Modern) mengatakan “reading maketh a full man, conference a ready man, and writing an exact man”. Oleh sebab itu, pengetahuan dan keahlian seseorang akan dapat dikembangkan dengan akurat dan efektif melalui kegiatan menulis dari pada sekedar membaca atau berdiskusi saja.
Ingatlah kembali bagaimana sulitnya Anda saat masih di Taman Kanak-kanak, saat di SD, SMP, SMA atau bahkan di bangku kuliah. Anda telah belajar dengan keras, susah payah atau bahkan menyakitkan. Mulanya Anda hanya dituntut untuk bisa berkata-kata. Kemudian Anda diperkenalkan pada huruf dan simbol. Selanjutnya Anda dituntut untuk selalu membaca. Pada saat yang sama, Anda juga mulai dituntut untuk mulai menulis dan mendengarkan orang lain dengan lebih baik. Memasuki SMP, Anda diharapkan sudah menguasai semuanya.
Sejak saat itu Anda mulai menguasai semuanya. Anda mulai pintar membaca, mendengar orang lain lewat debat dan diskusi, mulai pandai berbicara dan sesekali menulis. SEKALI-SEKALI? Ya Anda hanya menulis sekali-sekali saja! Coba Anda hitung dan bandingkan porsi Anda dalam membaca, mendengar atau berbicara dengan menulis. Anda pasti terkejut bahwa aktivitas menulis Anda tidak akan mencapai 25% dari keseluruhan aktivitas Anda. Dalam banyak hal, pekerjaan menulis laporan atau proposal bahkan sudah menjadi semacam alergi bagi Anda sendiri. Apa yang terjadi?
Yang terjadi sesungguhnya adalah ketidakseimbangan dalam perkembangan kemampuan Anda. Dan dalam hal ini, Anda telah menyia-nyiakan apa yang sudah Anda peroleh sejak kecil dengan mengembangkannya tanpa memperhatikan proporsi. Kemampuan menulis itu penting. Penting bagi karir Anda, penting bagi cita-cita Anda dan penting bagi karakter kepemimpinan Anda.
Selama sekolah Anda masih mungkin bisa menyeimbangkan kemampuan dalam menulis, membaca, mendengar dan berbicara. Akan tetapi begitu kita memasuki dunia karir dan wilayah kerja, perkembangan kemampuan menulis Anda mulai tertinggal jauh dari kemampuan Anda dalam membaca, mendengar dan berbicara. Sengaja atau tidak, aktivitas menulis Anda hanya dibatasi pada laporan, formulir atau proposal. Padahal, kemampuan Anda yang lain terus tumbuh dan berkembang. Maka, sangat mungkin kemampuan menulis Anda menjadi stagnan atau bahkan menurun. Cepat atau lambat, sesuai karakteristiknya penurunan kemampuan dalam menulis justru berkembang menjadi hambatan bagi kemajuan kemampuan membaca, mendengar dan berbicara.
Tidak menulis berarti Anda telah menyia-nyiakan kemampuan dasar yang sudah Anda peroleh di masa-masa awal pendidikan Anda. Dengan kata lain, telah terjadi penyimpangan dari rencana hidup atau blue print Anda sendiri, yang semestinya dikembangkan secara paralel dan seimbang!
Berikut ini adalah fakta-fakta tentang pentingnya menulis bagi keberhasilan seorang profesional.
Hackett, Betz dan Doty (1985), dalam sebuah buku mereka mengungkapkan bagaimana karir seseorang bisa dikembangkan melalui sebuah matriks seperti berikut ini.
Communication Skill Career Advancement Skill
Interpersonal Skill Job-Specific Skill
Political Skill Adaptive-Cognitve Skill
Administrative and Leadership Skill Career Management Skill
Kemampuan menulis adalah bagian yang tak terpisahkan dari pengembangan Job-Specific Skill. Oleh sebab itu, mereka meletakkan kemampuan menulis sebagai salah satu unsur utama. Kemampuan menulis bisa dikembangkan dengan cara-cara:
- Sering menulis berdasarkan kegunaan (purpose) spesifik atau audience spesifik;
- Memahami fakta bahwa “menulis” adalah “menengok kembali” (writing is revising). Dengan kata lain, menulis adalah memperdalam keahlian Anda;
- Memperoleh pengalaman editing yang akan bermanfaat tidak hanya untuk menulis akan tetapi secara keseluruhan bermanfaat untuk pengembangan kemampuan riset dan auditory atau observasi;
- Mempublikasikan tulisan.
Seorang pakar komunikasi, Donna M. Mc. Cune mengungkapkan pengalamannya. Bisa jadi Anda adalah seorang profesional yang hebat. Berapa lamakah karir Anda akan tetap bersinar? 10 tahun? 20 tahun? 30 atau 50 tahun? Jika profesi Anda menuntut pemikiran yang hebat, atau jika Anda harus bekerja dengan tangan atau kaki Anda, Anda mungkin masih bisa melakukannya dengan baik saat ini. Bagaimana dengan 20 atau 30 tahun lagi? Anda jelas tidak akan bisa bertahan hanya dengan menekan-nekan tombol keyboard di depan komputer untuk melakukan entry atas hal-hal yang sama sepanjang hidup Anda. Jika Anda bercita-cita menjadi petani atau traveller pengeliling dunia, Anda pun sudah harus mempersiapkannya dari sekarang. Lebih dari itu, ada satu hal yang bisa amat membantu mencapai apapun cita-cita Anda di masa depan dan pada saat yang sama menyelesaikan berbagai tugas Anda di masa sekarang dengan lebih baik, yaitu lebih sering menulis.
Jika kita perhatikan baik-baik, tingkatan achievement yang dianggap paling tinggi bagi seorang profesional adalah membagi semua ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Itu sebabnya setiap orang hebat di dunia pada akhirnya akan menulis buku atau menjadi public speaker yang berbicara di depan orang banyak. Artinya, hampir bisa dipastikan bahwa karir setiap profesional akan bermuara pada aktivitas berbicara dan menulis. Menjadi pembicara atau penulis. Seorang S3 pada akhirnya harus mampu berbicara dan menulis dengan baik. Seorang pedagang asongan yang sempat menjadi konglomerat pun demikian. Maka, menulis adalah alat survival.
Anda harus percaya, muara manapun yang Anda pilih – pembicara atau penulis, kemampuan menulis adalah tulang punggungnya. Masalahnya, apa yang sudah Anda persiapkan mulai sekarang, sementara kita mengetahui bahwa aktivitas menulis Anda terbilang minim?
Pada tahun 1988, sebuah survey melaporkan bahwa 79% dari eksekutif yang menjadi objek survey mengungkapkan bahwa menulis adalah kemampuan yang paling diabaikan dalam dunia bisnis. Padahal menurut mereka, keahlian menulislah yang justru paling penting dalam konteks produktifitas.
Pada tahun 1989, seberkas white paper berjudul “Perspectives on Education: Capabilites for Success in Accounting Profession” mengungkapkan bahwa semua dari 8 besar kantor akuntan publik (Big-8 Firms) menyepakati bahwa akademi dan universitas manapun semestinya menyediakan suatu kurikulum, yang bisa mengembangkan kemampuan komunikasi para siswa.
Pada tahun 1990, Accounting Education Change Commission, menggaungkan sentimen yang sama sekali lagi dalam “Objectives of Education for Accountants: Position Statement Number One.” Para siswa, calon akuntan dan para profesional yang menunjukkan kemampuan komunikasi yang kuat, secara tegas menunjukkan keunggulan dalam pasar tenaga kerja dan berkecenderungan lebih berhasil di sepanjang karirnya. Keahlian komunikasi dalam bentuk tertulis yang kuat akan bermuara pada job placement yang lebih baik, diperolehnya kepercayaan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar, kepuasan kerja yang lebih besar, hasil yang lebih tinggi dalam job performance evaluations dan kemajuan karir yang lebih pesat. Kemampuan menulis yang tidak jelas, ambiguous dan tak terorganisir dengan baik akan menghasilkan kerugian berupa turunnya tingkat kepercayaan supervisor atau client’s goodwill.
US Labor Departement (Depnakernya Amrik) memberikan catatan bahwa sebagian besar bidang profesi dan pekerjaan di masa yang akan datang, akan menuntut kemampuan menulis sebagai salah satu syarat utama. Dunia kerja terus berubah dan yang akan survive adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam komunikasi, tanpa memandang bidang pekerjaannya (1991).
Pada tahun 1992, Associated Press melaporkan hasil sebuah survey yang dilakukan terhadap 402 perusahaan. Survey itu mengungkapkan bahwa para eksekutif memberi penghargaan tertinggi pada kemampuan menulis namun dalam kenyataannya, 80% pegawai mereka berada pada tingkat memprihatinkan sehingga harus di upgrade kemampuan menulisnya. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 20% dibandingkan hasil survey yang sama tahun 1991.
Tahun 1993, Olsen Corp. – sebuah perusahaan penempatan tenaga kerja – melakukan sebuah survey yang menunjukkan bahwa 80% dari 443 pegawainya memerlukan pelatihan khusus untuk meningkatkan kemampuan menulisnya.
Berbagai studi menunjukkan bahwa sepertiga dari kantor akuntan publik di Amerika ternyata tidak puas terhadap kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh para akuntan baru. Salah satu dari studi itu menunjukkan bahwa kemampuan menulis yang buruk ternyata memiliki peran sebagai penyebab para akuntan entry-level kehilangan pekerjaannya (Kim, “Accountants as Communicators,” Trusted Professional, edisi Desember 1998).
Dari 19 karakteristik yang dipersyaratkan recruiter kantor akuntan publik, teridentifikasi bahwa kemampuan menulis menempati urutan kelima paling penting sebagai karakteristik penentu dalam penyaringan awal calon akuntan baik di kampus-kampus maupun dalam proses interview. Kemampuan menulis memiliki ranking yang lebih tinggi dari pada kemampuan teknis, keanggotaan dalam Beta Alpha Psi, pengalaman kerja dan reputasi almamater (Moncada dan Sanders, “Perceptions in the Recruiting Process,” CPA Journal, edisi Januari 1999).
Dari 22 macam keahlian yang dianggap kritis dalam bisnis dan ekonomi, praktisi akuntansi me-ranking kemampuan komunikasi tertulis sebagai keahlian yang paling penting untuk dikembangkan di lingkungan mahasiswa (Albrecht dan Sack, “Accounting Education: Charting the Course through a Perilous Future” Agustus, 2000).
Menurut sebuah survey dari majalah Fortune 500, para senior tax executives menemukan bahwa kemampuan menulis adalah termasuk atribut yang paling penting dalam proses perekrutan (Paice dan Lyons, “Addressing the People Puzzle,” Financial Executive, edisi September 2001).
Kemampuan menulis yang sempurna secara jelas membedakan high performers dalam bidang konsultasi perpajakan dari orang-orang yang semata-mata menginterpretasikan dan menerapkan aturan perpajakan (Sherrie Winokur, Tax Partner, Pricewaterhouse Coopers.)
Sebuah survey dilakukan oleh suatu tim dari Southern Utah University terhadap 90.000 anggota AICPA (American Intitute of Certified Public Accountants) dan IMA (Institute of Management Accountants). Dari 2.181 respon yang masuk seluruhnya menunjukkan bahwa “writes well” – kemampuan menulis yang baik - adalah satu dari tujuh keahlian yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap akuntan khususnya di tingkat entry level. Enam atribut lainnya, ternyata juga kembali pada faktor pentingnya kemampuan menulis yaitu kemampuan mendengar secara efektif, kemampuan menggunakan tata bahasa yang baik dalam berbicara dan menulis, kemampuan membuat dokumen dengan ejaan yang tepat, kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat saat berhadapan dengan klien, kemampuan untuk mengorganisir informasi ke dalam kalimat dan paragraf, dan kemampuan untuk menggunakan vocabulary bisnis dengan benar.
National Commission on Writing di Amerika Serikat (beranggotakan lebih dari 4.300 sekolah dan perguruan tinggi) mengungkapkan beberapa hal berkaitan dengan perlunya “revolusi dalam menulis” sebagaimana disarikan berikut ini.
Grammar atau tata bahasa, retorika dan logika adalah dasar-dasar yang membangun proses real learning dan self-knowledge. Artinya, semua itu adalah dasar bagi pengembangan proses belajar yang nyata dan bagi pengembangan karir pribadi seseorang. Kemampuan untuk mengatakan sesuatu secara benar, baik dan masuk akal adalah nilai dasar bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu, menulis dengan baik adalah sebuah kemampuan yang tidak boleh ditinggalkan atas dasar tiga pilar utama sebagai berikut.
Pertama, aktivitas menulislah yang telah merubah dunia. Berbagai revolusi di dunia dimulai dari menulis. Dalam banyak hal, menulis telah meningkatkan taraf hidup manusia secara keseluruhan, apapun bidang yang dirambahnya. Dalam faktanya, segala hal yang menekan dan terjadi dalam sejarah selalu mendorong orang untuk kembali ke tinta dan alat tulis.
Kedua, aktivitas menulis secara nyata telah terbukti memperkaya kehidupan politik setiap negara. Para pemimpin besar telah memadukan unsur kekuatan dan persuasi yang bisa mendorong orang melihat berbagai hal dari sudut-sudut baru yang lebih baik. Mereka telah menggunakan kekuatan kata, bahasa dan tulisan untuk mengingatkan kembali perlunya berbagai standar yang lebih tinggi guna mencapai kesejahteraan yang lebih baik.
Ketiga, menulis ternyata juga bisa mengungkap secara sangat mendalam berbagai hal yang seringkali orang tidak melihatnya. Padahal, semua hal yang tadinya tak terlihat itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap orang.
Menulis adalah sesuatu yang lebih jauh dan dalam dari sekedar menguasai tata bahasa dan tanda baca. Menulis adalah sebuah proses yang dapat mengembangkan kemampuan dalam berpikir dinamis, kemampuan analitis dan kemampuan membedakan berbagai hal secara akurat dan valid. Menulis bukan hanya sebuah cara untuk mendemonstrasikan apa yang telah diketahui, lebih dari itu menulis adalah cara untuk memahami apa yang telah diketahui. Menulis akan meningkatkan rasa percaya diri, dan rasa percaya dirilah yang akan memunculkan berbagai kreatifitas dan rasa bahagia.
Manfaat pribadi yang bisa diperoleh dengan menulis adalah:
- Koneksi dan jaringan untuk kepentingan karir;
- Pengetahuan yang lebih mendalam;
- Motivasi personal dan sosial yang meningkat;
- Financial reward;
- Kredit akademis;
- Hubungan dengan dunia ilmu yang tak terputus. Ingatlah bahwa ilmu selalu berubah dan berkembang, demikian juga berbagai aturan main dalam dunia usaha, baik aturan formal seperti hukum perpajakan maupun aturan main dalam bisnis;
- Kemampuan yang lebih baik dalam bekerja secara tim (team work);
- Kemampuan yang lebih baik dalam aspek komunikasi yang lain seperti membaca, mendengar dan berbicara;
- Peningkatan dalam kemampuan presentasi;
- Peningkatan percaya diri dan personal branding. Anda menaikkan status dan posisi personal branding dan corporate branding Anda dengan cara yang elegan dan tanpa biaya. Ingatlah bahwa di era sekarang, personal branding adalah hal yang penting.
- Profesional plus. Nilai plus-lah yang bisa memperpanjang karir Anda dan membantu mencapai berbagai harapan dan cita-cita;
- Anda telah membuka pintu-pintu baru bagi masa depan Anda dengan lebih baik, apapun konsepsi Anda tentang masa depan itu. Anda mulai membangun rumah-rumah baru bagi masa depan Anda sendiri;
- Anda siap dengan berbagai argumentasi dan analisis akurat di semua bidang;
- Anda menjalani profesi Anda dengan lebih baik dan dengan masa depan yang lebih baik. Itu pasti;
- Anda sudah mulai membenahi apa-apa yang sudah Anda pelajari sejak kecil dengan bersusah payah dan sempat tersia-sia. Dengan demikian, Anda akan memiliki kemampuan yang seimbang dalam mengembangkan diri dan profesi. Anda akan mampu, survive dan sukses dengan personal branding yang kuat;
- Ini adalah KESEMPATAN bagi Anda untuk BERINVESTASI.
Saya Tidak Punya Waktu
Ungkapan itu sebenarnya berbahaya. Anda mengatakan tidak punya waktu karena mengejar dan menyelesaikan berbagai hal dalam pekerjaan, karir dan cita-cita. Bagaimana mungkin Anda tidak punya waktu untuk sesuatu yang dapat membantu terwujudnya semua itu? Bukan tidak mungkin, waktu Anda yang tersita habis selama ini justru disebabkan karena kekurangoptimalan Anda dalam membaca, mendengar, berbicara dan menulis. Dan menulis, ibarat “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui’. Dengan menulis, Anda memperbaiki dan meningkatkan kualitas Anda dalam membaca, mendengar dan berbicara.
Di samping itu, ada banyak cara yang bisa membantu Anda dengan berbagai hal yang dapat menghemat waktu berharga Anda seperti, teknik wawancara, teknik ghost writing, teknik asistensi dan riset, dan berbagai teknik lain sesuai kesepakatan.
Saya Tidak Berbakat Menulis
Sekali lagi, ungkapan Anda berbahaya. Anda tidak semestinya membangun tembok-tembok bagi pengembangan pribadi Anda sendiri dengan tidak membuka pintu dan peluang baru yang mencerahkan masa depan Anda.
Dalam banyak kasus, berbagai media yang ada seringkali dibangun dan dikembangkan oleh orang-orang teknis yang SAMA SEKALI tidak berlatar belakang dunia tulis-menulis. Para kontributor mereka pun demikian. Itu sebabnya media-media itu tidak melulu berpaling pada orang-orang dari dunia jurnalistik. ANDALAH orang yang paling tepat untuk menulis. Anda adalah jurnalis.
Tidak ada yang bisa menjanjikan bahwa tulisan Anda akan fenomenal. Tapi siapapun bisa menjamin bahwa tulisan Anda bisa diperbaiki menjadi sesuatu yang lebih menguntungkan Anda.
Saya Tidak Boleh Menggunakan Nama Perusahaan dalam Menulis
Anda boleh memilih untuk anonymous. Anda bisa menggunakan nama “Si Keren Ujang” misalnya, dan jika tulisan Anda sudah mulai diminati, maka cepat atau lambat “Si Keren Ujang” akan identik dengan nama Anda sendiri. Ingatlah bahwa menulis adalah investasi dan kesempatan itu sering diberikan dengan free.
Bidang Saya Tidak Terkait dengan Apa yang harus Ditulis
Hampir semua bidang menjadi aspek mendasar dalam kehidupan setiap masyarakat dan bangsa. Profesi Anda juga pasti bisa dikaitkan ke sana. Oleh karena itu dunia tertentu bisa ditinjau dari segala aspek dan profesi yang ada. Anda bisa memandangnya dari segi hukum, seni, ekonomi, manajemen, sumber daya manusia, sosiologi, psikologi, pertanian, peternakan, perikanan dan sebagainya.
Anda ungkapkan saja ide-ide yang Anda punya sesuai bidang Anda, mereka akan membuatnya menjadi wacana. Anda bahkan cukup berbicara tentang dunia Anda, merekalah yang akan membumbuinya dengan aspek bidang mereka.
Saya Pernah Menulis dan Ditolak
Pada prinsipnya, apa yang dilakukan adalah bukan penolakan. Media sangat memahami bahwa setiap pemikiran dan ide semestinya bisa diungkapkan dan dirilis kepada publik. Hanya saja seringkali mereka dengan terpaksa harus mendahulukan tulisan yang siap rilis. Anda hanya ditantang untuk bersaing, tulisan Anda atau tulisan orang lain. Itu saja. Ada media yang mungkin siap mengolah kembali tulisan Anda dari keadaan seadanya dan menjadikannya alat investasi bagi Anda. Sebab, mereka memahami bahwa dunia di luar sana amat membutuhkan buah pikir Anda.
Kompensasinya Masih rendah
Tergantung cara pandang dan orientasi Anda.
Tidak Bisa Menuangkan Ide
Hampir semua media mengembangkan berbagai cara untuk bisa menjadi wadah bagi aliran ide dan pemikiran Anda. Pada prinsipnya, mereka akan mencoba berbagai hal untuk bisa menangkap ide Anda. Bila perlu, mereka menerapkan metode wawancara atau ghost writing. Yang penting, Anda punya sesuatu yang juga penting.
Saya Nggak PD
Menulis adalah salah satu cara terbaik untuk menaikkan PD Anda secara elegan dan profesional. Justru karena itulah Anda harus menulis.
Saya Sudah Menulis di Tempat Lain
Yakinlah tidak ada satu media pun yang melarang seorang penulis untuk menulis di media lain. Setidaknya hal itu bisa ditengahi dengan berbagai kesepakatan. Mereka tidak ingin melakukan hal itu. Anda bebas menulis di media lain. Mereka hanya beranggapan bahwa mereka adalah salah satu media dari semua media yang ada, dan mereka amat memahami fokus dan keunikannya masing-masing sebagai sebuah media. Yang jelas, dengan menulis Anda sudah menambah nilai plus bagi personal branding Anda.
Saya Adalah Penulis Buku dan Bukan Penulis Artikel Pendek
Dalam banyak hal, Anda mungkin punya ide atau gagasan yang tidak cukup panjang dan dalam untuk dijadikan sebuah buku. Atau sebaliknya, sebuah buku Anda bisa Anda sarikan dalam bentuk yang lebih pendek berupa artikel. Ini berarti promosi bagi buku Anda sendiri. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk menulis artikel cenderung lebih singkat. Sementara itu, kontak Anda dengan pembaca cenderung bisa lebih ditingkatkan frekuensinya. Ini akan sangat menguntungkan bagi buku-buku Anda di masa depan. Dan jika Anda cukup sering menulis, koleksi artikel Anda itu bisa Anda jadikan buku di kemudian hari.
Saya Tidak Menguasai Aturan Main di Bidang Itu
Mungkin Anda benar. Akan tetapi, dengan sedikit menggali Anda pasti bisa meyakini bahwa Anda adalah satu dari sedikit orang yang memahami aturan mainnya – apapun bidang itu. Artinya, pemikiran Anda tetap dibutuhkan oleh banyak orang yang jauh lebih awam daripada Anda sendiri.
Media Itu Tidak Blak-Blakan
Ini adalah kendala yang dihadapi setiap media selama hidupnya. Visi dan misi setiap media mengharuskan mereka berdiri pada posisi yang netral dengan asumsi bahwa posisi ini akan memberi manfaat yang lebih besar bagi semua sistem dan budaya serta bagi semua khalayak yang terlibat di dalamnya. Pada prinsipnya, setiap media harus mengungkapkan apa adanya, namun demikian hal itu harus dilakukan dengan bijaksana tanpa dikotori oleh unsur SARA misalnya. Adalah tanggung jawab mereka untuk mengungkapkan sesuatu yang blak-blakan dalam cara yang lebih konstruktif, Anda tetap bisa berbicara blak-blakan. Namun Anda harus memahami, bicara blak-blakan yang tidak disertai dengan kebijaksanaan akan lebih destruktif sifatnya. Oleh karena itu, banyak media lebih memilih pendekatan yang bijaksana, sistemik dan ilmiah. Ini saatnya rekonsiliasi dan bukan saling menyakiti.
Saya Lebih Suka Menulis Fiksi
Ada yang sudah menyediakan tempatnya, dan mereka akan mencoba mentransformasikan ide dan gagasan Anda ke dalam “format mereka”.
Tidak Ada Komputer untuk Menulis
Anda tidak bisa beralasan seperti itu. Banyak media juga menerima kontribusi dalam bentuk tulisan tangan. Bahkan, ada juga yang menerima ide dan gagasan dalam bentuk suara atau gambar.
Sudah Terlambat bagi Saya untuk Menulis
Tidak. Inilah saatnya di mana Anda bisa menuangkan segala ide dan gagasan Anda demi masa depan diri sendiri dan demi masa depan bangsa ini. Jika Anda sebagai ahlinya tidak mau berbicara, maka segala cita-cita termasuk cita-cita pribadi Anda, akan terkendala.
Kesimpulan
Raihlah tingkatan tertinggi dalam kemampuan profesi. Jadilah orang yang eksak. Bicaralah kepada yang sudah mati, kepada yang tidak hadir dan kepada yang belum lahir. Apapun profesi Anda, Anda harus mulai menulis.
Dari berbagai sumber.
Ikhwan Sopa
Majalah Indonesian Tax Review.
“Hanya ada satu jalan untuk meningkatkan kemampuan menulis, yaitu menulis. Apa saja.”
Perubahan adalah salah satu yang tidak bisa dihindarkan dalam hidup. Waktu yang bergulir akan selalu membawa perubahan dalam diri seseorang, termasuk dalam dunia kerja.
Seperti yang dialami teman-teman di FeMale ketika harus pindah kantor dari Bintaro Plaza ke Ratu Plaza. Meski kedua tempat tersebut plaza, suasana lingkungan kedua tempat sangat jauh berbeda. Perubahan alamat kantor, interior dan suasana kerja yang lain dari sebelumnya tentu membuat teman-teman di FeMale agak ‘kaget’.
Menurut Mira, dalam dunia kerja, perubahan dapat terjadi kapan saja tanpa bisa kita perkirakan. “Mulai dari perubahan kecil seperti pindah ruang kerja, tata letak ruang yang didesain kembali, hingga perubahan besar seperti perubahan struktural.”
Reaksi atas perubahan itu sendiri bermacam-macam. Ada yang mengomentari perubahan ini dengan menggrundel di belakang, ada yang bisa langsung beradaptasi dan ada juga orang yang menerima perubahan tanpa berkomentar apapun. Bagi Mira, sikap penerimaan atas perubahan yang terjadi di lingkungan kantor ini tergantung pada karakter masing-masing.
Banyak orang berpikir, perubahan seringkali terjadi di luar kontrol atau kemampuan kita, sehingga sulit bagi kita untuk menghindari suatu perubahan yang terjadi dalam lingkungan kantor. Menurut Mira, persepsi tersebut tak selamanya benar. Memang ada perubahan-perubahan yang terjadi di luar kontrol kita sendiri, namun sekecil apapun kita masih bisa mengkontrol perubahan tersebut sesuai dengan otoritas yang kita miliki.
Anda mungkin masih ingat kisah “Alice in Wonderland.” Cerita ini mungkin bisa sedikit menggambarkan bahwa kita memang harus punya kontrol diri. Dituturkan bahwa di sebuah persimpangan, Alice bingung untuk memilih jalan mana yang harus ia tempuh untuk meneruskan perjalanan. Hingga akhirnya ia bertanya pada anjing kesayangannya untuk membantunya memilihkan jalan yang terbaik. “Jalan mana yang harus kupilih?”. Sang anjing balik bertanya padanya, “Kamu sendiri ingin pilih jalan yang mana? Jangan tanya aku. Lebih baik kau tanya pada dirimu sendiri. Karena seperti kamu, aku tak tahu jalan mana yang harus kupilih, dan ke mana jalan-jalan ini mengarah.”
Sebagai contoh, tentu bukan hal yang menyenangkan jika di kantor keluar peraturan baru yang lebih ketat seperti yang dialami oleh salah seorang kawan dekat Mira. Di kantornya yang merupakan perusahaan asing, ada peraturan baru yang tidak memperbolehkan para karyawannya menggunakan atribut keagamaan di kantor saat bekerja, seperti menggunakan kalung salib bagi yang beragama Katholik dan Kristen dan menggunakan jilbab bagi kaum perempuan yang beragama Islam.
Perubahan ini jelas suatu hal yang di luar kemampuan kawan dekatnya Mira, yang kebetulan memang berjilbab. Namun, sebesar apapun perubahan tersebut, Mira berpendapat bahwa kawan dekatnya tetap dapat memiliki kontrol atas perubahan tersebut. Yaitu kontrol untuk membuat keputusan, apakah ia akan menerima keputusan tersebut dan mematuhinya atau memilih keluar dari perusahaannya demi memegang teguh prinsipnya.
Jadi, bagaimanapun seseorang tetap bisa memiliki kontrol terhadap perubahan yang terjadi. Tergantung pilihan yang diambil untuk menyikapi perubahan tersebut. [irma]
*taken from Radio Female 100.2 FM
Thursday, July 31, 2003
Mempunyai beberapa pekerjaan sekaligus ? Harus mengerjakan tugas yang menuntut keahlian profesi yang berbeda ? Banyak tugas rangkap sehingga harus lapor ke lebih dari satu atasan ? Mungkinkah ? Apa resikonya dan bagaimana menyikapinya jika kita menghadapi kondisi semacam ini ?
Mengapa Harus Punya ‘banyak’ Pekerjaan ?
Mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin menjalani beberapa pekerjaan bila saat ini kita sudah sangat kelelahan dengan satu pekerjaan saja. Banyak orang akan berpikir dua kali untuk mengatakan ‘ya’ jika ditawari pekerjaan lain yang sama-sama menyita waktu. Jika menyatakan setuju, berarti perlu memberikan upaya ekstra untuk menuntaskan seluruh pekerjaan.
Namun jika diperhatikan, kondisi semacam ini semakin banyak dialami oleh karyawan, termasuk kita sendiri. Jenis pekerjaan yang beragam dengan deadline yang ketat, keterlibatan kita pada beberapa proyek kerja sekaligus, atau bahkan harus menjalankan beberapa tugas yang menuntut keahlian yang sebenarnya bukan profesi utama kita.
Tampaknya sekalipun lebih berat, banyak orang tetap mampu menangani berbagai jenis pekerjaan semacam ini, bahkan secara sengaja mencari kesempatan untuk mengerjakan hal-hal lain di luar rutinitasnya. Dengan terlibat dalam proyek lintas departemen misalnya, seseorang otomatis akan mempunyai tanggung jawab lebih besar. Beban kerjanya jelas bertambah, dan mungkin ia juga harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada ‘atasan kedua ‘(dimana standar penilaiannya juga bisa berbeda), dan ia juga dituntut untuk belajar hal-hal baru. Sungguh hal yang tidak mudah, namun mengapa justru kondisi pekerjaan semacam ini menarik bagi sebagian orang ?
a. Memacu Motivasi Pribadi
Banyak orang merasa puas apabila berhasil menangani tugas yang lebih banyak dan lebih beragam, selama seimbang dengan pengakuan yang diberikan perusahaan atau atasannya. Kondisi yang rutin atau monoton bagi sebagian orang dianggap tidak menantang, dan akan menurunkan semangat kerja. Dengan keberhasilan yang diraih, motivasi seseorang juga akan semakin bertambah.
b. Menambah Kompetensi
Dengan bertambahnya ragam pekerjaan, otomatis mendorong karyawan untuk belajar lebih banyak hal baru, yang akan menambah pengetahuan atau ketrampilannya. Kompetensi terus terasah seiring dengan intensitas dan kompleksitas tugas yang diemban, dan hal ini merupakan salah satu alasan orang mencari ‘pengayaan’ dalam pekerjaan, atau lebih dikenal dengan ‘job enrichment’.
c. Menambah Jaringan Relasi
Keterlibatan dalam beberapa proyek atau tugas terkadang menuntut interaksi yang lebih luas daripada sekedar bekerja rutin. Perluasan relasi juga bisa menjadi alasan mengapa seseorang bekerja lebih keras, apalagi jika dari sini ia bisa mendapatkan pengakuan sosial yang lebih baik.
d. Memanfaatkan Kesempatan Selagi Bisa
‘Kesempatan tidak datang dua kali’ adalah ungkapan yang sering kita dengar. Tidak banyak orang ditawarkan kesempatan untuk mendapatkan variasi tugas, atau kesempatan untuk mendapat pengakuan yang lebih besar seiring dengan beban yang bertambah. Begitu ada tawaran, mengapa tidak dicoba saja ?
e. Kuntungan Finansial
Tidak semua penambahan beban kerja diiringi dengan peningkatan pendapatan, walau kadang kita bisa saja mendapatkan bonus atas keberhasilan yang diperoleh. Namun sejalan dengan bertambahnya keahlian dan pengalaman, setiap orang berharap bisa memperoleh penghargaan yang lebih tinggi di waktu mendatang. Walaupun tidak selalu mengutamakan materi, peningkatan pendapatan seringkali diharapkan oleh sebagian besar orang yang bekerja.
Tanpa memikirkan segi keuntungan dan kerugian memiliki beban kerja yang beragam, dewasa ini, istilah ‘multitasks’ memang sudah menjadi hal yang umum dibicarakan orang di lingkungan pekerjaan. Bahkan jarang sekali perusahaan memberdayakan karyawannya hanya untuk satu jenis tugas saja. Tidak heran jika proses seleksi atau rekrutmen karyawan kadang menjadi tampak rumit, karena karyawan tidak hanya dituntut untuk bisa tampil optimal di pekerjaan saat ini, namun juga potensial untuk dikembangkan ke tugas lain yang lebih kompleks nantinya. Tuntutan ini sejalan dengan harapan berkembangnya perusahaan di masa depan.
Sekalipun sudah umum diberlakukan di berbagai perusahaan, sistem kerja multitasks ini tetap perlu dicermati resiko atau konsekuensinya. Tidak semua orang siap dibebankan sistem kerja semacam ini, sehingga penting bagi kita untuk bisa mengantisipasinya agar seluruh pekerjaan tetap berhasil dengan baik.
Apa Saja Resiko Yang Mungkin Terjadi ?
a. Penilaian Tidak Jelas
Tidak adanya target dan standar penilaian yang jelas karena tugas yang beragam, apalagi jika peran kita tidak secara spesifik ditetapkan di awal, pada akhirnya hanya akan menimbulkan kelelahan dan ketidakpuasan. Pada dasarnya kita tetap butuh pengakuan dan penilaian yang jelas sesuai usaha yang kita keluarkan.
b. Sulit Menetapkan Prioritas
Makin banyak tugas, seringkali kita bingung menentukan mana yang harus didahulukan, karena semua pihak menuntut hasil yang cepat dan baik. Kita cenderung bekerja serabutan sesuai tuntutan yang datang, dan hasilnya pun cenderung tidak tuntas.
c. Koordinasi Tim Kerja Kurang Lancar
Dengan makin banyak koordinasi dengan pihak lain, komunikasi mutlak diperlukan. Perbedaan standar dan persepsi seringkali terjadi, baik antar anggota tim maupun dengan atasan dari masing-masing pekerjaan. Kemungkinan tugas menjadi ‘overlapping’ pun bisa terjadi. Tanpa komunikasi yang baik, akan sulit mendapatkan hasil yang maksimal dan akhirnya justru menimbulkan ketidakpuasan bagi masing-masing pihak.
d. Beban Kerja Tidak Realistis
Apabila kemampuan atau energi yang dimiliki tidak sebanding dengan beban yang diberikan, tentunya usaha untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan akan sangat besar. Jika beban kerja tidak realistis, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas keseluruhan. Keberhasilan yang dicapai juga belum tentu akan bertahan lama karena setelah itu pasti akan ada lagi tuntutan yang lebih besar.
e. Stress Berlebihan
Setiap pekerjaan mempunyai target dan deadline, dan apabila tidak bisa ditangani dengan baik maka seseorang akan selalu kehabisan waktu dan tidak bisa merasakan kesenangan dari pekerjaannya. Perasaan cemas atau kekhawatiran yang berlebihan bisa menimbulkan stress, sehingga pada akhirnya pengayaan pekerjaan tersebut tidak lagi memberikan manfaat.
f. Kehabisan Waktu Untuk Pribadi
Masih terkait dengan soal waktu, tidak jarang orang menyalahkan pekerjaan sebagai hal yang menyita waktu pribadi mereka, akibat dari ketidakmampuan mengatur prioritas dan waktunya. Tidak adanya keseimbangan antara kehidupan kerja dengan pribadi tentunya akan memberikan dampak kurang baik untuk kehidupan jangka panjang seseorang.
Begitu banyak konsekuensi apabila kita tidak bisa menyikapi beban kerja yang beragam semacam itu. Sebetulnya, ada cara jitu agar hal-hal tersebut di atas tidak sampai terjadi.
Langkah-langkah Mengantisipasi Konsekuensi Negatif
a. Perjelas target & standar yg diharapkan
Untuk setiap tugas yang diberikan, pastikan kriteria keberhasilan atau standar yang diinginkan untuk mengetahui hasil kerja kita sudah sesuai atau belum. Dengan begitu, kita bisa memperkirakan strategi kerja dan menyesuaikan usaha (effort) untuk mencapainya nanti. Kita pun bisa mengevaluasi kinerja kita sendiri secara lebih spesifik. Selain itu, akan lebih mudah bagi kita untuk mengklarifikasi jika ada masalah atau situasi kerja yang tumpang tindih dengan pihak lain.
b. Tetapkan prioritas pekerjaan / profesi yang dijalani
Dengan target yang banyak, akan sulit memenuhi semuanya secara bersamaan atau dengan kualitas yang sama sempurnanya. Pastikan prioritas masing-masing tugas. Jika standar harapan atasan sudah jelas, kita juga bisa menentukan bobot kontribusi kita dan menegaskan seberapa besar komitmen kita terhadap setiap pekerjaan. Bertindaklah realistis. Meskipun kita ingin menguasai banyak hal, dianjurkan untuk tetap memiliki fokus utama kerja daripada mengambil seluruh tanggung jawab secara sama besarnya.
c. Komunikasikan kesanggupan kepada atasan atau tim kerja
Untuk setiap target kerja, bicarakan kesanggupan kita secara terbuka kepada si pemberi tugas, atasan atau rekan satu tim. Jika dirasa tidak realistis, negosiasikan deadline atau standar kualitas yang diminta, agar kualitas kerja keseluruhan tetap terjaga. Jangan takut terlihat tidak mampu, karena yang bisa mengukur kemampuan kita adalah kita sendiri.
d. Buat target-target & jadual kerja jangka pendek
Selalu merasa kehabisan waktu ? Mungkin kita belum mengelola waktu dengan tepat. Buatlah target-target jangka pendek, dimana dari sini kita bisa menghitung beban harian, juga mengetahui realistis tidaknya suatu pekerjaan. Selain itu kita bisa mengantisipasi masalah yang mungkin muncul.
e. Alokasikan beban kerja tertentu kepada orang lain
Jangan ragu mendelegasikan tugas yang kita tidak sanggup selesaikan sendiri, atau minimal berkoordinasi agar pekerjaan bisa selesai lebih efisien. Sedapat mungkin delegasikan tugas yang bisa memberikan manfaat atau nilai tambah bagi orang lain, dengan tetap memperhitungkan kapasitas orang tersebut. Akan lebih baik jika hal ini sudah kita antisipasi lebih awal pada saat membuat perencanaan, agar tidak membebani orang lain di tengah proses kerjanya.
f. Gunakan waktu seoptimal mungkin
Walaupun sudah membuat rencana dan skala prioritas secara mendetil, kedisiplinan tetap menjadi faktor terpenting untuk menuntaskan suatu pekerjaan. Hindari menunda pengerjaan tugas, dan berusaha lebih cepat bertindak. Dengan makin beragamnya beban kerja, kita harus makin pandai menjaga atau meningkatkan motivasi kerja.
g. Koordinasi intensif dengan rekan kerja
Komunikasi juga penting untuk menghindari situasi overlapping dalam menjalankan tugas yang bermacam-macam. Selain ditegaskan dalam komitmen di awal, koordinasi dan proses monitoring harus tetap berjalan agar tidak terjadi saling menyalahkan, karena bisa berakibat pekerjaan tidak terselesaikan pada waktunya. Selain itu, kondisi ini bisa berdampak pada iklim kerja kelompok.
h. Minta feedback dari atasan & rekan kerja
Setelah kita berusaha menyelesaikan satu pekerjaan, mintalah masukan atau penilaian dari atasan atau rekan kerja terkait. Hal ini penting untuk mengetahui apakah kita sudah mendapat manfaat dari tugas-tugas tersebut, ? Apakah ada kemajuan dalam hal kinerja atau kompetensi diri ? Apakah yang masih harus kita perbaiki ? Intinya, selain untuk mendapatkan pengakuan, kita bisa menilai proses belajar selama ini dan mencermatinya sebagai antisipasi di waktu mendatang.
Perlu Berpikir dan Bertindak Secara Bijak
Seberapapun beban kerja yang kita miliki, kita harus bisa mengenali ambisi kita, kemampuan dan kondisi yang menghambat maupun menunjang, sehingga pada akhirnya segala upaya yang kita lakukan bisa berhasil optimal. Ambisi yang besar harus diimbangi dengan kesadaran bahwa kita memang sanggup menjalankannya. Kesadaran di sini tentunya dengan memperhitungkan kemampuan kita sendiri, motivasi, faktor lingkungan, serta segala konsekuensi yang mungkin terjadi (baik positif maupun negatif).
Setelah memiliki sasaran yang sudah diperhitungkan secara realistis, barulah kita mengatur langkah pencapaiannya dengan program yang jelas. Setiap usaha yang kita canangkan seharusnya sudah diantisipasi dengan baik, sehingga bisa meminimalkan hambatan dan memudahkan kita tampil seoptimal mungkin.
Yang tidak kalah penting, menjaga motivasi yang penuh untuk mewujdukan setiap sasaran yang ada. Terkadang semangat kita muncul di awal namun mengendur di tengah tugas, terlebih jika situasi semakin sulit. Tetaplah berpikir secara tenang dan rasional, kembalikan kepada sasaran semula mengapa kita mau menjalankan semua ini. Evaluasi diri perlu dilakukan sejalan dengan proses kerja, dan bukan hanya di akhir. Dengan demikian kita akan tetap terbuka dan siap menghadapi kesulitan yang lebih besar.
by: Ninik Wulandari, EXPERD Consultant
Wednesday, January 05, 2005
Kelimpungan membagi waktu dalam pekerjaan?
Beberapa hasil pekerjaan menjadi tidak memuaskan karena konsentrasi terbagi pada beberapa tugas lain?
Merasa lelah dan tidak berdaya karena tidak bisa menolak tugas?
Kehilangan dokumen penting saat sangat dibutuhkannya?
Bila satu jawaban dari pertanyaan di atas adalah “Ya” ada tips yang harus dikuasai dalam mengelola waktu.
Sering sekali kita merasa kewalahan oleh pembagian waktu. Merasa tidak berdaya karena waktu begitu terbatas sedangkan tugas begitu banyak sehingga kita merasa menjadi korban dari sempitnya waktu. Siapakah sebetulnya yang memegang kendali atas waktu? Betul kita tidak dapat membuat waktu menjadi berhenti, memperlambat atau mempercepat waktu. Kabar baiknya, kesibukan kita adalah pilihan kita. Pilihan kita adalah:
· apa yang mau kita kerjakan sekarang
· apa yang mau kita kerjakan nanti
· siapa yang dapat kita delegasikan
· apa yang dapat kita abaikan
Mengelola waktu sangat berhubungan dengan persepsi kita terhadap tentang waktu. Bila Anda merasa waktu berada di tangan Anda untuk dikendalikan, maka jawaban atasu pilihan-pilihan ini menjadi jelas. Perlu kejujuran untuk menjawab pilihan tersebut. Untuk membantu kita menjadi jujur dalam membuat prioritas maka periksa dengan teliti satiap aktivitas yang tertulis pada agenda Anda. Apakah aktivitas tersebut pantas menjadi prioritas atau dapat dilakukan nanti, dapat didelegasikan atau bahkan perlu diabaikan.
Alat periksa suatu aktivitas sebelum menjadi prioritas adalah:
- Aktivitas tersebut membantu mencapai tujuan sesuai visi hidup Anda,
- Aktivitas itu membantu meraih sukses pribadi dan organisasi
- Aktivitas itu memperkaya hidup
- Aktivitas itu akan sangat disesali kalau tidak dicapai
Setelah memeriksa setiap aktivitas, tentukan waktu yang paling optimal bagi kita. Kita -manusia di dunia ini- terbagi dua, antara manusia pagi (morning person) dan manusia malam (late person). Bila kita ingat-ingat, ada jam-jam kita berpikir dengan prima. Mengingat, menghitung, menganalisa dengan baik. Bisa pagi hari atau sore, bahkan malam bagi sebagian orang. Kenali kebiasaan kita selama ini. Jika waktu prima itu di pagi hari, siapkan meeting penting di pagi hari, dan gunakan waktu menyelesaikan tugas-tugas rutin di sore hari.
Setelah mendapatkan daftar aktivitas setiap hari dan memisahkan aktivitas yang menjadi prioritas Anda, kenali beberapa gangguan yang mengurangi waktu Anda saat melakukan aktivitas yang menjadi prioritas. Hal itu dapat berupa mencari benda-benda kecil seperti staples, klip kertas, nomor telpon rekan bisnis atau klien. Atasi keadaan ini dengan meluangkan waktu merapikan dokumen dan meja kerja Anda. Lakukan pemisahan antara file aktif dan file yang ‘kalau-kalau perlu’. Buat catatan nomor telpon penting di tempat yang mudah diakses, simpan semua benda pada tempatnya, kembalikan semua benda pada tempatnya segera setelah menggunakannya dan singkirkan semua benda yang belum perlu untuk pekerjaan saat ini.
Intinya, mengelola waktu berkaitan langsung dengan mengelola diri sendiri, mengelola tugas dan mengelola orang lain. Ketika waktu sudah dapat kita kelola dengan baik, kita menjadi efisien dan produktif.
Tips Praktis Mengelola Waktu
Setiap malam luangkan waktu lima menit untuk melihat aktivitas Anda esok hari. Periksa prioritas yang penting, tidak penting, dan sebagainya. Buat secara detil dan spesifik ‘apa’ yang akan Anda lakukan dan apa ukurannya. Misalnya, Membuat 3 halaman report bulanan, menelepon 5 klien untuk mengetahui progress proyek, dan bertemu dengan calon investor dari jam 3 sampai jam 5.
by: Rima Olivia, EXPERD Consultant
Wednesday, December 08, 2004